Ini sebuah curahan hati dari seorang teman-ku yang ternyatakebetulan berjenis kelamin perempuan, yang lagi gerah dengan keberadaanya di tempat kerjanya yang secara de-facto adalah sebuah organisasi kemanusiaan (katanya sih begitu, tapi dia sendiri gak yakin apa semua yang bekerja disitu adalah manusia)…lho kok?
Oke deh, ini dia ceritanya...
Prolog:
Dua cangkir kopi setengah pahit, terletak begitu saja didepan kami, dengan kaki menyilang (tapi bukan karena kaki-ku dan kaki-nya kaki X lho) dan dagu nebeng di atas kedua telapak tangan yang lagi dengan santainya berselonjor di atas kedua kaki, ketika dia memulai curahan hatinya ini, tanpa ada skenario sebelumnya, apalagi ampe pake sutradara segala
Pernah gak kamu-kamu semua pikirin kena apa sih kita nyasar di kantor kita - dia menegaskan sekali lagi kantor sebuah organisasi kemanusiaan - masing-masing sekarang ini dan untuk apa kita ada di sini.
dia menanyakan suatu pertanyaan yang sebenarnya cukup mudah untuk menjawabnya meskipun juga sulit untuk mengatakan yang sebenarnya. dan diapun melanjutkan…
Sebenernya hal ini sudah lama menggelayut dalam pikiranku, tapi pagi ini muncul dan begitu kuat minta untuk dibagi-in ke semua. Pagi yang ceria hari ini sebenernya, tapi setelah dapet imel yang pertama sekali aku terima hari ini, tiba-tiba mendung menari-nari persis diatas kepala - sialnya katanya gak mau beranjak sama sekali - dan rasanya batu sebesar rumah juga jatuh di atas kepala. - dia ngebayangin kalau ini bukan sekedar permainan kata-kata untuk mewakili perasaan saja -
Awalnya 19 September 2007, sebuah imel kecil dan nyaris seharusnya dianggap tak berarti aku kirimin ke seorang petinggi di kantor, ngingetin dia untuk ngelaksanain kewajibannya. Sebenernya ini juga bukan imel pertama, ini sudah imel ketiga yang aku kirimin. Dan gak ada hasil yang positif dari imel-imel sebelumnya. Dalam hati sih mikir waktu ngirimin imel ini “kalo dipanggil gak nyahut apa salahnya kita colek bahunya“.
Dan hasil dari “colekan di bahu” itu berubah wujud menjadi masalah besar. Si petinggi yang nganggep dirinya bos - seperti yang lainnya -, ngerasa tidak layak diingetin seperti itu oleh seorang anak kecil (apa emang karena badan-ku juga kecil ?) yang pegawai rendahan - apa juga untuk direndahkan ? - dengan gaji yang gak ada setengahnya dari yang diterima oleh si petinggi tersebut dan dengan pengalaman yang gak ada apa-apanya dibandingin dengan si petinggi tersebut. Masalah yang dianggap kecil pada awalnya berubah jadi besar.
Waktu baca imel pagi ini dari si petinggi, yang menggambarkan kemarahannya, perasaan yang serta merta muncul dari benakku adalah “Am I working in humanitarian organization? I have seen many people with these character on the streets and now they are moving to the humanitarian organization“. - tanpa menjelaskan apa isi email yang sebenarnya. dia hanya berkata bahwa balasan imel tersebut berbentuk peng-kerdilan nilainya sebagai manusia -
dia kemudian melanjutkan lagi …
Kalau aku ingat dari sudut pandang idealisme, waktu pertama sekali aku berniat masuk ke organisasi ini, yang aku bayangkan adalah “Aku kerja di organisasi kemanusiaan dan bakal ngelakuin sesuatu untuk orang-orang yang udah menderita karna Tsunami. Meskipun aku gak akan bisa ngelakuin banyak karna aku gak punya kemampuan, bahkan aku dapat keuntungan dari penderitaan mereka”. - Sounds naive and sad but true.
Apakah hal-hal simple seperti ini gak pernah terlintas di pikiran si petinggi itu? Kita dapat segala fasilitas yg kita rasain sekarang karna setelah begitu banyaknya orang-orang yang terluka, tertinggalkan sendiri, tersakiti secara fisik dan mental, dan terlebih lagi mati. Dan hanya karena aku berusaha mengingatkan dia akan sesuatu yang emang adalah tanggung-jawabnya, dia lantas mengingat-ngingatkan aku sesuatu tentang kecil-nya aku dan bukan tidak mungkin yang lainnya dimatanya.
dia diam sambil menarik nafas sebentar…
Dibandingin dengan yang aku rasain sekarang dengan apa yang udah dan mungkin masih dirasakan sampe sekarang di benak orang-orang yang udah berhasil selamat dari tragedi yang menyebabkan kita ada di sini sekarang, gak akan ada apa-apanya dan tidak layak untuk diperbandingkan. Cuma setitik debu di alam raya ini.
Mungkin semakin lama berada di kenyamanan kantor (sekali lagi, kantor organisasi kemanusiaan) semakin membuat kita lupa akan fakta yang membawa kita semua berkumpul di kantor ini. Semakin lama berada di kenyamanan gaya hidup dari gaji yang kita terima setiap bulan (yang jelas sangat tinggi kalau dibandingin dengan UMR dari NKRI) semakin membuat kita lupa apa yang menyatukan kita semua di bawah organisasi yang sama.
dia menatap langit dengan tatapan kosong, sambil menggumamkan…
Mudah-mudahan ceritaku ini membuat aku tidak lupa kenapa aku bisa berada di Banda Aceh, Calang, Meulaboh. Mudah-mudahan petinggi-petinggi di atas sana yang hampir sebagian besar
sengajasudah melupakan alasan kenapa dia berada di Jakarta, Medan, Banda Aceh, Calang, Meulaboh, Nias, membuat aku tidak melupakan kenapa aku berada di Banda Aceh, Calang, Meulaboh.
Epilogue:
Setelah cukup lama terdiam merenungi dan menelusuri titik-titik kebenaran dari curahan hati temen-ku, kami sama-sama menarik nafas panjang, tidak sadar kalau kepulan asap kopi yang tadinya panas sekarang sama sekali hilang karena sudah dingin oleh faktor alami.
Dan kesimpulan yang akhirnya kami setujui bersama meskipun tanpa memorandum tertulis, adalah banyak orang yang memang bekerja di organisasi kemanusiaan yang seharusnya memiliki mental dan prinsip bahwa siapapun dia, apapun posisinya, dia digaji untuk menolong dan menghargai sesama. Nah kalau ternyata untuk urusan internal saja dia tidak bisa melakukannya, bagaimana dia bisa memahami orang-orang yang populer disebut sebagai beneficiaries (istilah penerima bantuan menurut temanku) ?.
[Catatan: Gambar dikumpulin dari sana dan sini dan seperti biasa baru di-oprekin]
extremusmilitis TAGS: Dengar-Ku, Opini-Ku
Technorati TAGS: dengar, opini, aneh, blogger, extremus, militis, cerita, design, film, musik, informasi, teknologi, otak, opini, rumah
DIarsipkan di bawah: Dengar-Ku, Opini-Ku | yang berkaitan: Cerita, curhat, kemanusiaan, manusia, organisasi, renungan, teman






























Oh! Gejala yang sama yang diceritakan rekan-rekan yang masih ada idealisme di Aceh ini.
Organisasi kemanusiaan malah menjadi tempat mendulang uang
Untunglah masih bertahan aku jadi freelancer saja….@alex
seperti keping mata uang yang ada dua sisi-nya
di satu sisi ya itu bagus sebagai batu loncatan untuk perbaikan kesejahteraan,
tapi di sisi lain tujuan utamanya malah terlupakan sama sekali oleh mereka, bahkan di antara mereka sendiri tujuan itu menjadi bias sama sekali
*speechless*
mudah2an mereka dibukakan dan diluruskan kembali tujuannya.amin
trus ingetin oom,,jangan kapoks
Go Extrem Go!!!
mmm.. kok gitu ya..
mmm.. kok gitu ya..
Lapor, komandan ! Tugas sudah di laksanakan. Bisa di ceq di my profil.
Postingan tulisannya menarik, bur no koment dulu ya,hehe.Tengkyu
He he… tapi mas, gak di organisasi kemanusiaan gak dimanapun, yang namanya penyelewengan pasti aja ada. Cuma sih memang harusnya tolak ukur yang paling deket c apalagi ditempat yang mas ceritain adalah bagimana dulu kepedulian internal. Yah gimana jika gambaran internal aja udah gak betul, jangan2 diluar juga semu. Cuma formalitas, jika begitu tentu muatan moralnya gak akan pernah nyampe. Jadi menurut saya c tabrak aja, mumpung idealisme mas masih ada. Karena hal2 menyimpang kayak gitu lebih hebat dari virus, cepet banget kita bisa tertular. Maju terus pantang mundur mas! He..
Dengan konsekuensi dipecat jadinya, Her

Aku pernah begitu. Susah punya idealisme euyy…
namanya juga KEMANUSIAAN…
.
.
.
imbuhannya dihilangin aja…
.
.
jadi MANUSIA
.
.
nnnah…MANUSIA
.
namanya juga manusia, yang begitu itu BANYAK!
saran saia, sabar dan ingetin terus tuh orang-orang! smangadh!
Wah, ilang kemana nih sobat yang satu ini.Hellooo !!! R u okey ?
waduh ternyata udah ada beberapa komen selagi aku masih asyik
masyukdengan ketidak-jelasan manusia alias melanglang buana, bales atu-atu deh@’K
hehehe, bukan aku euy, ini cerita temen-ku
btw, thx untuk support-nya, aku bakalan sampein langsung ke orang-nya
@Ady Says:
halah…gak jelas
*timpuk adi pake stetoskop*
@sisca79 Says:
ghut…ghut…ghut…
terbang menuju ke lokasi, btw kok gak ada hubungannya ama postingannya
@undercover
mantaps…bakalan di forward neh ke temen-ku yang curhat ke aku
mudah-mudahan sarannya bisa di amin-in ama dia
*episode lanjuta: “balesin komen”*
@alex
orang super idealis, ngakunya susah jadi orang idealis
gimana neh?
# hoek
udah tahu
samfah…
.
.
ini dikategorikan pinter apa oon yaks?
*lirik komen yang ku-bales persis diatas*
another samfah…
dasar tukang samfah…
HI3, Akhirnya nonggol juga.Lega deh rasanya.Yang saya ga bisa ya itu,tu.Ketika temanku mendadak raib begitu saja, saya ga bisa cuek2 aja.
Perlu di cash euy, jangan sampe soak.
@hanna
makasih…makasih atas perhatiannya
ada kiriman juga ?
di situ masih ada lowongan ga?
@caplang
hiks…lowongan apa lage neh?
Memang susah ngingetin petinggi………
@pr4s
apa perlu kepala mereka ditimpuk dulu yaks ? buat sekedar ngingetin
Yupe…
LSM sekarang memang banyak yang ga’ manusiawi.
Sekedar ngingetin aja, makmurnya ‘kalian’ para petinggi merupakan hasil dari darah dan tangis korban.
So…
setuju timpuk aja deh
kalo yg dirasa bener ya jangan menyerah. mereka-2 mang hrs di ingetin kok