Jadilah Seperti Anak Kecil Itu
Ke-ego-isan, ke-angkuh-an kita sebagai orang yang ngaku-nya dewasa™, menurut aku membuat kita terkadang me-lupa-kan siapa kita se-benar-nya. Setelah kita menganggap bahwa kita sudah cukup mampu untuk berpikir dan bertindak seperti apa yang kita inginkan, kita lantas dengan lantang meneriakkan bahwa kita lebih hebat, kita lebih bisa, dan kita lebih mengerti.
Padahal, ironis-nya, kita itu sebenarnya gak ada apa-apa-nya. Kita tidak lebih dari se-onggok daging dan tulang yang bernyawa yang tujuan-nya satu: bertahan hidup™. Lantas apa bedanya kita dengan anak kecil yang juga memiliki tujuan yang sama? Jawaban-nya cuma satu, Mereka Lebih Baik Dari Kita
Aku yakin, pasti banyak mem-protes ini. Siapa sih yang senang di-cap kalah dari anak kecil, dibandingin aja dengan mereka pasti ngamuk-ngamuk tujuh turunan kan :lol : . Tapi tunggu dulu, aku punya sedikit sekali penjelasan tentang jawaban-ku itu. Aku bukan bermaksud me-nafi-kan keberadaan kita yang sudah cukup lama menghirup dunia ini, lebih banyak makan asam garam, tapi apa kita pernah membandingkan cukup dengan 2 (dua) hal berikut:
#Masalah
Jelas, dan jelas sekali kalau kita lebih banyak menghadapi masalah daripada mereka, karena kita memiliki pikiran yang menurut kita benar, dan kemudian dengan anteng-nya mempertentangkan pikiran kita dengan pikiran-pikiran lain yang berbeda, padahal kita juga tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.
[silahkan meng-interpretasi-kan sendiri sesuai dengan keinginan anda]
Bandingkan dengan anak kecil yang juga memiliki pikiran yang sama seperti kita, tapi mereka lebih memilih untuk melakukan apa yang mereka pikirkan tanpa harus di-ribet-kan dengan pertentangan-pertentangan benar atau salah. Dan seandainya pun perselisihan itu ada, mereka bisa menyelesaikannya jauh lebih mudah dari kita.
#Keceriaan
Kita semua tahu kalau hampir sebagian besar dari kita telah kehilangan sebagian besar pula keceriaan kita sejak kita mendeklarasikan diri kita sebagai orang dewasa. Ya, itu karena kita lebih menggunakan asas pemikiran negatif ketimbang asas pemikiran positif pada saat kita berhadapan dengan orang lain. Dan seandai-nya pun keceriaan itu terlihat, tapi sebagian besar adalah keceriaan palsu, yang di-paksa-kan, hanya untuk membuat orang lain senang, itu kan tujuannya, sadar atau tidak sadar ???
[silahkan meng-interpretasi-kan sendiri sesuai dengan keinginan anda]
Bandingkan dengan anak kecil yang langsung tanpa aba-aba bisa bermain dengan teman-teman sebayanya, dan lihat-lah keceriaan mereka yang polos, tidak ada pembohongan, apa adanya dengan segala kelebihan-nya yang lain.

Gak susah kan menjawab-nya, meskipun emang aku tahu kalau lebih susah melaksanakannya atau bahkan meng-amin-ininya. Sebabnya, ya karena itu tadi, kita menganggap bahwa kita sudah cukup mampu untuk berpikir dan bertindak seperti apa yang kita inginkan, dan kita sampai pada satu titik bahwa kita bisa. Dan aku juga tidak mau memperjelas jawaban diatas secara ilmiah, secara agama, secara sosial, apalagi secara anatomi yang memang tidak ku-mengerti sama sekali, karena aku hanya ingin sekaligus hanya meminta, agar kita memikirkan sendiri jawaban-nya dan penjelasan-nya secara sederhana dari hati dan pikiran kita. Jawaban atau Bantahan yang akan menghasilkan ribuan, bahkan jutaan Jawaban atau Bantahan lainnya.
Bayangkan jika kita bisa seperti mereka, lepas dari semua masalah, jauh dari pertentangan-pertentangan, dan bisa tersenyum tanpa ada yang memaksa, tidak terikat oleh norma-norma harga diri dan sosial, tanpa harus meninggal-kan keber-adab-an kita sebagai manusia, seharusnya kita bisa. Dan alangkah lebih baiknya kalau kita menempelkan di pikiran kita masing-masing sebuah kata sakti: “Jadilah Seperti Anak Kecil Itu“. Itu saja. Hanya sebuah Perenungan.
![]()
[Gambar diambil dari sini dan dari sini]
extremusmilitis TAGS: Opini-Ku
Technorati TAGS: children, anak, manusia, kehidupan, renungan, dewasa
DIarsipkan di bawah: Opini-Ku | yang berkaitan: renungan, manusia, children, anak, kehidupan, dewasa





























*cepat-cepat nulis*
YAks, pertamaaaaaaaaaaaaaaaax
*bahagia, muter-muter sambil nari-nari rimba*
*ups, malu ada yang ngelirikin*
Ya ya ya extremusmilitis yang sedang ingin kembali ke masa-masa anak-anak
Kalo semua orang ditanyain jelas aja mereka sepakat kalo masa kanak-kanak (mungkin sampai SMA) adalah masa-masa yang terindah
Anda juga sepakat kan?
(bahkan kalau ada seseorang yang berbuat kelakuan agak menyimpang sedikit, kita biasanya menyebut “wah, pasti masa kecilnya kurang bahagia”, iya gk?)
Tapi tentu aja dong, semakin bertambahnya umur kita, semakin (katanya c) dewasanya kita, dunia yang kita hadapi juga akan semakin kompleks, iya kan?
Bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang, tapi kita juga harus memulai berpikir akan tanggung jawab kita hidup di dunia
Dengan begitu kita akan dapat menjadi manusia yang berharga, (duh, unda ni nulis apaan c?)
Tapi walaubagaimanapun, masa kanak-kanak tetaplah menjadi masa-masa yang akan kita rindukan bahkan sampai (mungkin) matinya kita nanti, weks
*ups, masih penasaran nih*
Sekalian hetriiiiiiiiiiiix 4 the first time
Yes, yes, yes
Topik yang menarik. Anak kecil bebas berekspresi.
Jujur apa adanya. Mereka belum ternoda, hi3…
@anakrimba
awas lho, gak bakalan aku kasih makan hari ini
*ngiketin anakrimba di pohon keramat di tengah hutan*
Tapi kenapa? Apakah kita harus? Bukan-kan ini situasi yang kita buat sendiri dalam dunia ke-dewasa-an kita, bener gak?
@Hanna
Apapun yang ada hubungan-nya dengan dunia anak kecil akan selalu menjadi menarik bagi kita yang ngaku-nya dewasa yang udah di-penuh-in dengan segala tetek bengek kehidupan. Thx Han 
Ya
Klo saya tak malu merasa anak kecil lebih baik dr sy. Kadang2 emang muncul ego, tp ya sudahlah tak ada salahnya sama2 belajar.
Sampai saat ini, sy selalu menyimpan sifat kekanak-kanakan sy. Terkadang, asyik jg bersifat spt anak kecil. Bebas berexpresi.
Knp mas? Lg mumet ya, trs ngeliat anak kecil yg ga ada beban? Ya jadilah spt mrk. Masalah ga usah dipikir, dibagi-bagi biar enteng.
aku cuga macih tetiw
*pipi mewona mewah*
tambah satu lagi bro, anak kecil ga mengenal ras dan gender bahkan agama…, jadi asik aja kalo ketemu yg sebaya lsg main…
@pr4s
Syukur-lah kalau emang kamu bisa nerima hal yang seperti itu pras (yang belum tentu mudah bagi orang lain, setuju? ), dan itu lebih baik bukan?. Dan ya, kita tidak pungkiri kalau kita emang pasti punya sifat ke-kanak-kanak-an yang adalah ciri khas kita sebagai manusia. Mumet sih gak pras, hanya sekedar rindu menjadi seorang anak kecil
Btw, thx untuk kepedulian-nya yaks…
@’K,
*halah, gampar ‘K pake boneka barbie, tuh main sana!!!*
@CY
Absolutely, setuju bro!!!
Lebih enak kan jadi-nya…
kepolosan anak kecil adalah kemenangan mutlak atas Orang yg lebih dewasa.
Wah, masa-masa romantisme saat memasuki masa kanak2 muncul kembali, nih. Emang sih, dunia anak-anak masih penuh kepolosan, jujur, dan apa adanya. Makanya, ada banyak orang bilang, ketika melihat sebuah kejadian di mana ada anak-anak kecil di situ, tanyalah anak-anak. Rupanya anak2 memang lebih jujur ketimbang orang tua, hehehe
Tapi dinamika kehidupan manusia akan terus berkembang. Romantisme masa kanak2 pasti akan berlalu juga. Bukankah begitu, Bung?
Salam militis.
Ah ngomong aja sampeyan pengen lari-lari di jalan sambil telanjang tanpa perlu diomeli banyak orang kan?
Mau jd spt anak kecil? Yuk main ama sy hehehehe.
@telmark
keren quote-nya…catet!!!
@Sawali Tuhusetya
Seperti-nya sih begitu pak Guru
Rindu memiliki kejujuran, kepolosan dan keberadaban seperti mereka
Dan yah itu betul sekali pak Guru, emang seiring waktu, kita di-hadap-kan dengan semakin banyak masalah, tapi kenapa ya kita tidak mencoba untuk memandang masalah dari sudut pandang anak-anak?
*aku akan mencoba ini*
@sandal
wuaah…kok tahu euy…padahal itu juga kan sebagian dari habit aku
ampe sekarang@pr4s
bohle…bohle, mo main apa pras? petak umpet?, gundu? atau… kaya yang dibilang ama tukang reparasi sandal diatas?
Hmm, mungkin itu sebabnya sy jadi sangat akur dengan ortu waktu masih kecil, dibandingkan dgn skarang, karena dulu gak pernah pny pertentangan pikiran dgn mrk, nurut mulu…
aku juga sependapat sama beberapa hal diatas…
makanya aku sering dibilang “adik kecil” sama lingkunganku. bukan karena keliatan manja atau apa… Tapi menjadi anak kecil yang selalu bertanya (asal nanya nya ga nyebelin aja), bergerak tanpa beban, dan melakukan sesuatu sesuai dengan “kata hati” adalah sesuatu yang menyenangkan
Hahahhahahaha….. patut dipertimbangkan, Kayanya seru juga….
*geleng2 kepala, sinting kali yeee*
@jensen99
Ya, dan semua orang kaya-nya ngalamin hal sama bro, tapi tidak salah kan?
@iphan
bukan-kah dengan bertanya, kita akan semakin pintar? dan itu lebih dari pada orang sok teung
menuruti kata hati lebih dari sekedar menyenang-kan, tapi sekaligus melegakan juga
thx bro sumbangan-nya…
@pr4s

Iya, setuju.
Anak kecil belum dikotori oleh konsep, persepsi, doktrin atau kelekatan duniawi.
Bolehkan saya bilang materi, kekuasaan, bahkan agama kadang merupakan kelekatan duniawi.
Mereka cenderung melihat, bukan menilai.
Mereka jujur (kecuali yang disinetron2 gak mutu).
Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanya (lingkungannya) yang akan membentuk dia seperti apa.
Salam kenal
Priyanto Hidayatullah