Waktu aku pertama kali mendengar kalimat pada judul di-atas, jujur bikin kening-ku berkerut sedalam-dalam-nya. Ini apa artinya
. Kok udah pipi kiri ditampar, yang jelas saja pasti sakit dan bikin pipi merah meronabengkak, masa harus nawarin pipi kanan lagi? Edan apa?
Satu kalimat aneh, tapi ternyata mengandung makna yang sangat dalam, yang aku baru sadari setelah cukup bisa memahami ke-aku-an-ku di dunia ini, dan ini aku baca dari ALKITAB, yang menjadikan kalimat itu sebagai sebuah perumpamaan. Aku tahu dan aku yakin ini akan menjadi per-debat-an yang sulit untuk kita pahami, tapi aku meminta dan berharap kita semua untuk bisa me-renung-kan makna-nya.
Kalau di-tilik secara kemanusiaan kita, jelas-jelas penggunaan kalimat “Pipi Kiri Di-Tampar, Berikan-Lah Pipi Kanan” sudah pasti akan membuat orang merasa jengah dan heran, dan bukan tidak mungkin akan menyangka kita gila™. Apakah ini suatu kebodohan?, Tidak ternyata, ini bukan suatu kebodohan. Malah aku menganggap kalau aku yang bodoh yang telah salah meng-arti-kan-nya, sebelum aku paham apa arti yang sebenar-nya (tipikal manusia).
Dan, setelah aku mengerti dan pahami arti yang sebenar-nya, ternyata kalimat tersebut adalah suatu tindakan yang didasari KASIH™. Ya, kasih terhadap sesama, kasih dimana kita bisa mengalah dan tidak membalas perbuatan jahat dari sesama kita, di-saat kita belajar untuk bisa meng-ampuni ketika kita jadi korban dari kejahatan orang lain. Bisa dikatakan berbanding terbalik dengan pepatah “Air Susu Dibalas Dengan Air Tuba“. Lho kok makin ngawur???.
Pada saat kita di-musuhi, dan pada saat kita di-sakiti, tentu saja kita secara refleks sebagai manusia yang punya akal dan pikiran, akan berontak, dan melawan, dan bukan tidak mungkin kita akan berusaha mem-balas-kan dendam itu sampai kita puas dan merasa menang. Dan sudah pasti kita sudah tebak hasil akhir-nya bagaimana, dendam yang tidak berkesudahan, kesakitan, kebencian, dan lain sebagai-nya. Apakah kita pernah mencoba, sekali saja, untuk mengalah dan melihat perbedaan ketika kita tidak menyimpan dendam itu bahkan ketika kita sama sekali tidak mem-balas-nya?
Aku ada dua pengalaman yang berbeda yang aku alami beberapa tahun yang lalu:
#Ketika Aku Melawan Dengan Segenap Kekuatan-ku
Seorang anak SMU memukul keponakan-ku yang masih SD yang datang dengan menangis dan mengadu kepada-ku. Dengan sigap, tanpa pertanyaan apa-pun, aku langsung mendatangi rumah orang-nya dan hanya bicara sepatah kata, untuk kemudian memukuli-nya sampai babak belur, nama-nya juga sebagai paman yang baik aku ya bela keponakan-ku. Yang ujung-ujung-nya membawa aku berurusan dengan Polisi, meskipun pada akhir-nya bisa diselesaikan dengan cepat, dan harus membayar biaya perobatan anak tersebut selama 3 minggu
. Akhir-nya aku juga yang rugi, ya rugi waktu, rugi materil, belum lagi rasa malu, meskipun di satu sisi, hati-ku merasa puasa telah me-lampias-kan dendam-ku.
#Ketika Aku Tidak Melawan Bahkan Tersenyum
Seorang gadis, temen-ku satu kantor, yang menuduh aku melakukan Sexual Harrasment (Pelecehan Seksual) terhadap-nya. Aku melayani tuduhan-nya dengan tenang karena ini adalah masalah yang rumit dan fatal untuk moral dan karir-ku ke depan, sambil berusaha meminta penjelasan atas tuduhan-nya itu, dengan tersenyum. Aku tidak marah, meskipun darah ini mendidih dan jelas saja harga diri-ku terinjak-injak karena aku merasa tidak melakukan-nya
, dan aku berpikir jika aku salah mengambil tindakan ini akan semakin memperburuk keadaan-ku. Setelah di-proses dengan simultan oleh pihak HRD, ternyata terungkap kalau tuduhan itu bohong, dan itu dilakukan-nya karena dia merasa kecewa atas penolakan-ku, meskipun aku merasa tidak pernah menolak dia karena aku merasa kami hanya teman kerja. Dan akhir-nya sampai sekarang kami malah menjadi teman baik, setelah dia meminta maaf dan aku-pun me-maaf-kan-nya.
Dari dua pengalaman di atas, aku men-coba menarik kesimpulan, kalau ternyata tidak selama-nya penyelesaian masalah dengan amarah dan membalas perlakuan kejam kepada kita akan menyelesaikan masalah. Sebalik-nya pada saat kita mengalah, dan bisa berpikir dengan tenang ketika kita di-hina, di-aniaya, seperti-nya jalan keluar itu terbuka dengan lebar. Dan ini sudah aku bukti-kan sampai hari ini
Meskipun yah aku tahu, itu akan sangat-sangat sulit untuk dilakukan, apalagi kita sebagai manusia yang punya hati dan punya pikiran. Belum lagi kita terjepit diantara dilema untuk memilih dihakimi atau menghakimi. Apalagi kalau di-serta-kan dengan ego kita yang lebih sering menang daripada akal sehat kita.
Nah, mana yang harus kita pilih dan kita lakukan itu terserah kita. Yang penting aku percaya kalau hidup ini dilandasi KASIH, hidup ini akan terasa lebih indah...Dan aku belajar dan mau untuk mengasihi-mu
[catatan: gambar di-ambil dari sini]
extremusmilitis TAGS: Extremus-Militis, Opini-Ku, Otak-Ku
Technorati TAGS: kemanusiaan, moral, renungan
DIarsipkan di bawah: Extremus-Militis, Opini-Ku, Otak-Ku | yang berkaitan: kemanusiaan, moral, renungan





























ato bisa juga, kalo dah nerima duit di tangan kiri, terimalah duit juga di tangan kanan..
*siyul siyul*
waduh…!!! bagus buuangeet postingnya, emang sih kl kita sebagai MC mlkkn “HUKUM KASIH” pasti dunia ini aman dan tentram.
Pipi Kiri Di-Cium,Berikan-Lah Pipi Kanan
Kalo bagi saya malah kalimat tersebut sebagai brainstorming, menjungkalkan segala logika manusia yang ada pada diri saya. Sehingga bisa menjadi kosong, dan akhirnya diisi dengan kasih.
@-tikabanget-
*ngulurin kedua tangan ke tika*
halah…ini lagi, yang dibahas itu KASIH bukan duit
@dolfis
thanks, ya aku setuju dengan itu walaupun ya kita sama-sama tahu, itu tidak semudah membalik-kan telapak tangan…
@Mrs. Neo Forty-Nine
*ngedaftar jadi orang pertama ke Chiw*
@danalingga
Yupe bro, kita hanya manusia yang memiliki akal dan logika sebagai manusia juga dengan semua kerumitan-nya…Ayo bro, aku ikut, kita sama-sama mengisi diri kita dengan kasih
Ya, “Pipi Kiri Di-Tampar, Berikan-Lah Pipi Kanan” ini merupakan idiom yang memiliki kandungan nilai kasih sayang dan cinta terhadap sesama. Kalau setiap manusia bisa merefleksikan sekaligus mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, bisa dipastikan kehidupan di tengah peradaban gila ini akan senantiasa mendapatkan sentuhan cinta dan kasih sayang pula, tak ada permusuhan, yang ada hanya kawan yang berbeda pendapat. Sayangnya, secara manusiawi sikap semacam itu belum semua orang bisa melakukannya.
sini… sini…
*PAW!! DZINGG!!*
Apakah situ mendengar kalimat tersebut dari sebuah khutbah yang ada di tengah - tengah lapangan Bikasoga di daerah Bandung….?
@Sawali Tuhusetya
Ini-lah pak Guru yang bikin hati ini sesak…seandai-nya yah…seandai-nya
@caplang™
halah…
*ngiket kedua tangan caplang biar gak bisa nampar orang lagi*
@Mihael “D.B.” Ellinsworth
Bukan bro, bukan, tapi apa ada beda-nya dimana aku mendengar-kan-nya?
Wah, jangankan pipi kanan, kalau saya punya pipi tengah, saya kasih juga tuh! Hehehehe…
Btw, thanks ya telah mampir di blogku! Dan mohon maaf lahir bathin juga!
**yang kalimat terakhir agak OOT**
Ya…, seandainya kesimpulan seperti itu bisa dilakukan semua orang, pasti kedamaian akan abadi.
Salam kenal.
Menurut saya sabar adalah tetap bertahan pada jalan yg diperintahkan-Nya, jadi lebih luas dari : pipi kiri di tampar berikanlah pipi kanan. Atau apakah ini sisi lain dari ragam kesabaran ya ?
@Yari NK
wah kalau ngorbanin-nya sampai segitu, lebih baik lagi dong mas
@Bachtiar
Ya mas, seandai-nya saja ya…
Salam Militis!!! Mas
@Herianto
Itu juga merupakan arti mendalam dari sebuah kesabaran, karena emang Dia yang ngajarin kita untuk bisa saling men-gampuni dan me-maaf-kan
Thx ya mas
Kalo pipi kiri saya ditampar, maka kuberikan tangan kanan.. aliyas, balik nampar *PAW! DZIG!* gampang dan lebih manusiawi, kan?

Wah, kalo gito besok saya coba ya tampar pipi kanannya. Eh, ga jadi deh. Ga tega…Abizzzz kamu itu baiiiik bangat. Sok tahu ya.
Ya, kasih sayang yang sudah hampir dilupakan orang. Dan, aku sosok yang merindukan kasih sayang itu. Andaikan semua orang bisa saling mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita, maka dunia ini bagaikan surga. Mari kita tebarkan benih kasih sayang kita kepada sesama.
I see… Maksudnya kalau yg kanan sudah dapat ampau-nya, yg kiripun harus dapet juga jatahnya ya ?
“Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu akan membalas kebaikan?
Kamu seharusnya membayar luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan”. Konfusius.
Memang jika kita cukup puas dengan menjadi manusia biasa, konfusius memang masuk akal.
Tapi jika ingin menjadi manusia luar biasa, maka lakukanlah yang luar biasa juga.
Bukankah kebaikan di balas dengan kebaikan itu hal biasa,? Yang luar biasa itu luka di balas dengan kebaikan.
Nah sekarang pilihan tinggal pada kita, mau biasa-biasa aja , atau mau luar biasa.
pesan moral:
jangan idolakan bruce lee
jadinya apa2 pake fisik
*kaburrrrr*
pesan moral…pesan moral…
@qzink666
Oh begitu ya?
@Hanna
*ngelus dada, kirain jadi ditampar*
Padahal udah siap-siap klaim asuransi, kan lumayan
Yupe Han, mari kita ciptakan kasih sayang, tidak perlu tunggu orang lain, kita mulai dari kita sendiri
Bagus ya Han, filosofi yang sangat indah, thanks berat untuk pemahaman-nya yang mendalam
@telmark
Ya, ya, seperti-nya itu juga ide yang bagus
*ngulurin ke-dua tangan ke telmark*
@danalingga
Terima kasih juga untuk semakin menguat-kan pesan dari Konfusius-nya, membuat kita bisa semakin yakin dalam menentukan pilihan…
Aku tidak berjanji, tapi aku mau belajar untuk bisa menjadi luar biasa Dan
@’K,
apakah ini sebagai dari Nyamfah Action Day?
Bruce Lee juga kan punya pesan moral yang baik lho, ini contoh filosofi yang dianut ama sang Legenda:
*gebukin Jenderal yang mo kabur pake Double Stick*
@arul

Iya…iya udah tahu ini emang pesan moral
Ada pesanan yang lain Rul?
Jika pipi kiri ditampar, terus kita balas tampar… Ujungnya? Berantem. Kalau berantem? Sakitnya banyak…
Jika pipi kiri ditampar, lantas diberi pipi kanan… Yang nampar bakal bingung… “Ini orang masih waras apa ga ya…” terus dia pergi deh.
@rozenesia
Wakaka, contoh yang lucu, bagus, dan pas juga ini untuk pesan moral ini
Waduh gila, ternyata bisa juga nahan emosi ya?

Emang cowok kalau dituduh melakukan pelecehan itu bisa marah toh?
Bukannya malah seneng ya?
Mantab.. mantab.
Keren!
Peace with Love
Reggae cinta damai
pipi kiri ditampar ,,,pipi kananmu q gampar,, hahahhahaha
Saja sering merasa deja voe…
“dan harus membayar biaya perobatan anak tersebut selama 3 minggu”
khas seorang indian sejati…
________
ah ya…kalo saia lebih condong untuk bersikaf froaktif kawand, dan emang bener-bener bermanfaad
Bagaimana kalo pipi kiri kita di gampar tiba2 dan tanpa sebab? Haruskah tetap menyodorkan pipi kanan? Oho, kalo saya milih balik gampar ato lapor pulisi..
Meski saya gak jadi manusia luar biasa, setidaknya kemanusiaan saya tetap terjaga.. *memuaskan ego*
@evelyn pratiwi yusuf
ya iya lah eve
kalau kita emang nge-laku-innya ya mungkin seneng, tapi kalau gak, dan malah kita sangat anti pelecehan, ya terang aja kita ngedumel bukan?
@gimbal
dan bukan cuma reggae bro, kita semua harus-nya (kalau gak mau dibilang sebaik-nya), harus cinta damai
@han
terimakasih untuk tamparan-nya
@Mihael “D.B.” Ellinsworth
oh i c. *nawarin psikiater ke mihael*
@hoek
ndak masalah hoek, tiap orang punya style yang berbeda dalam ngadepin masalah kan?, yang penting semua konsekuensi harus bisa kita per-tanggung jawab-kan juga.
@qzink666
tidak salah-kan kalau kita bertanya dulu, sebelum mem-balas-nya?, dan setelah bro balas meng-gampar atau lapor ke polisi, seterus-nya apa? masalah yang akan terus berlanjut kan?
btw, pengertian dari kalimat di-atas itu tidak se-harafiah yang bro pikir-kan, ini adalah sebuah per-umpama-an, yang meng-ajar-kan kita untuk ber-tindak lebih sabar, selain daripada sekedar memuas-kan ego saja
Kecuali kalo emang udah emosi di ubun-ubun dan harkat-martabat-derajat udah terhina, hajar saja!
*ngeluyur sebelum disambit*
weekkss alex udah balek? asyiiikkk…
*nyambit alex pake DVD hentai*
dari perspektif lain ini justru bukan bentuk suatu kelemahan tapi merupakan kekuatan
Seperti menyangkal diri ya mas …
*eh, ini blogers ndak pada libur yah*
[...] kurukshetra, perang, Renungan, universal Tulisan kali ini masih berkaitan dengan komenku di sini dalam menanggapi komen mbak hanna. Di mana mbak Hanna mengutip sebuah ujar ujar dari Konfusius: [...]
siapa yg mencemarkan nama Bruce Lee … ha..? ha…? ha…?
*Kejar Jendral Bayut pake dobel stick*
Mus, ditampar pipi kiri aja sakitnya udah ngujubileh, mau ngasi yg kanan lagi mikir2 deh sakitnya.
@evelyn pratiwi yusuf
marah itu tandanya ga melakukan, kalo malah seneng itu tandanya memang biangnya
Itu seperti peribahasa kalau mau baik jangan setengah - setengah.
biar gak digampar mending tutupin aja pipi kita, toh kalo ada orang yang niat mau ngegampar akhirnya ill-feel sendiri kan?!
salam kenal lagi
@CY
kejar terus bro, kejar *ngomporin mode: on*
iya sih emang *gak nyadar megang pipi sendiri*
halah itu kan harafiah-nya atuh, lihat arti di-balik-nya dong *mode sok ngajarin: on*
@BeWiRed
hmmm peribahasa-nya bagus juga itu
*save as*
@yonna
bisa…bisa…itu juga ide yang bagus