Ter-pendam sekian lama, akhir-nya me-letus juga, tapi ndak seperti Gunung Kelud yang emang lagi me-letus juga. Bukan karena aku ke-habisan kata-kata, bukan sama sekali. Karena pada akhir-nya, semua itu berakhir dengan indah dan damai. Tapi saat ini, aku ingin sebentar saja me-nyatu-kan diri-ku dengan apa yang ku-lihat, apa yang ku-baca, dan apa yang ku-rasa, dan aku pun me-noreh-kan ini untuk teman-teman-ku yang memiliki semangat untuk me-nulis-kan apa yang ingin mereka tulis-kan, mereka yang sama seperti-ku, yang baru saja meng-injakkan kaki di tanah yang luas ini, di-tengah-tengah himpitan ke-tidak peduli-an mereka yang merasa sudah “Dewasa” di-celah ke-kanak-an mereka, di-antara pijakan kaki mereka yang merasa sudah “Mapan” di-celah ke-kerdil-an mereka.
Dan ini tentang mereka teman-teman-ku, tentang-ku dan tentang-mu juga. Peduli setan dengan orang-orang yang marah, tidak senang, jijik, dan mungkin akan me-lupakan kami. Dengar-lah, Baca-lah, dan Ingat-lah.
Bunyi Serunai Di Ambang Fajar
Bangun-kan Diri Ber-gelut Renyah
Kicau Samar, Ketuk Sadarku
Memanggil, Menindih Sukma-ku
Tulis, Ku-tuliskan
Baca, Ku-bacakanKetika Gelisah itu datang kembali
Ketika Risau itu beranjak pergi
Aku, Dia, Berahi
Mereka, Kalian, EjakulasiKetika Marah itu datang kembali
Ketika Heran itu masih menari
Tidak di ambang duniawi
Lepaskan erang mata hatiHey Kalian!!!
Aku tahu, Aku masih merangkak
Samudera ini bukan hanya milik kalian
Mulut-mu mencaci-ku
Mata-mu menusuk-ku
Melihat-ku pun, Kau tidakIni aku, Ku-kuat-kan kaki-ku
Berdiri Sejajar Dengan Kalian
Dan lihat-lah, Aku Bisa
Tulis, Ku-tuliskan
Baca, Ku-bacakanApa aku harus pergi
Sambut gelap-nya dunia yang begitu terang?
Apa aku harus sembunyi
Dari sepi-nya dunia yang hingar bingar ini?Lihat-lah, lihat
Kau tidak bisa tertawa lagi
Sekarang kita sama
Dan aku akan tetap berdiri
Di-atas batu yang ku-tanam sendiri
Ber-diri di-situ sampai aku mati
catatan:
- aku tidak tahu apa ini di-kategori-kan sajak, puisi dan sejenis-nya, itu mengalir begitu saja, hasil meditasi-ku atas permintaan dari Bro Alex, Sista Siwi, Bro Dana, Sista Hanna, Sista Natt, Bro Goop dan sedikit tambahan kalau aku meng-henti-kan ke-adiktif-an-ku merokok, dan ngopi pada saat me-noreh-kan ini
meskipun setelah itu sih ngerokok dan ngopi lagi - ter-inspirasi dari woro-woro yang sedang ter-jadi di tengah-tengah kehidupan blogger Indonesia, yang juga menjadi ke-resah-an Mas Iman Brotoseno, Ndoro Kakung, Mbak Venus, Anto, Tika, Rozenesia, DB, dan masih banyak lagi lain-nya.
- Gambar di-ambil dari sini, dan modifikasi dengan sedikit oprekan.
Silah-kan kalau ada yang ingin me-nilai, memuji, meng-kritik, me-nyaran-kan, meng-hina, hasil meditasi-ku ini.
DIarsipkan di bawah: Cerita-Ku, Extremus-Militis, Opini-Ku, Otak-Ku, Rumah-Ku, Sajak - Ku | Tagged: Blogger, Cerita, Opini, Otak, rumah





























hehehehe,, ayo udaaah udaaaaahhhh……bubar jalaaaannn……
baiklah!! sayah akan menghinaaa…!!!
Memang ada apa to?
*celingak celinguk*
#############################
Nice words bro…
@venus
emang udah selesai kan Mbak, damai, bahkan dengan indah-nya lagi, jujur aku senang dengan hasil akhir-nya.
@tikabanget™
terima kasih telah menghina, karena ini akan membuat-ku, kita dan kami semakin kuat.
@deKing
ndak ada apa-apa kok bro, ini hanya sebuah kontemplasi saja melihat banyak-nya geger yang sedang terjadi di blogosphere saat ini
Thx bro…
Go to hell…… kembali lagi ke tujuan kita bikin blog itu untuk apa.
Dan kalo ada yang gak seneng itu kan biasa say. Pasti ada yang tidak suka
Waow, awalnya saya ga ngerti ini tentang apa??

Masih juga meraba-raba,
Hingga sampai pada bait ini
Yah, memang tidak mungkin mengangkangi samudera
Musykil merangkak melewatinya, tapi masih mungkin bila mengendarai kapal pesiar
Lohh??!!
-Syip paman-
@itikkecil
Akur Sista, Yeah, Go To Hell…
Bayi aja merangkak sebelum bisa berjalan kan? Dan kita juga harus belajar sebelum menjadi pintar bukan?
@goop
Ini berarti, kan gak ada salah-nya kan kalau meminta sedikit saja tempat di-dunia yang tanpa batas ini
Cuman orang bego aja yang gk mau tampil dipermukaan,
Dunia indah bro, persetan kata-kata mereka, selama masih ada nafas, tetap harus semangat menjalani hari-hari,
eh, jadi ingat juga kawal ngomong gini
saya melihatmu lhoo
*kedipkedipgenitz*
Indah, bung. Jika semuanya dimulai dari diri sendiri dengan kesadaran sendiri…
Meditasi… Duh, semenjak kuliah, aku udah jarang meditasi beneran.
Percayakah sampeyan, kalau kehidupan itu akan membentuk siklus? sehingga setiap pertempuran itu pasti akan berakhir dengan datangnya kedamaian, dan setiap kedamaian itu pasti akan memunculkan potensi peperangan, yang sewaktu-waktu akan meledak, kemudian berujung pada kedamaian lagi.
wow inilah lika liku pergaulan di dunia maya….awalnya penasaran, tertarik, interaksi dan intensitasnya berkelanjutan sampai sekarang. sampe ada marah-marahan, sebel-sebelan, dst. padahal hal tadi gak perlu terjadi jikalau kita memahami kelemahan berkomunikasi di dunia maya yaitu kita tidak bisa melihat wajah dan ekspresi lawan bicara, tatapan matanya, ukiran senyumnya, caranya mengangkat alis, tidak mendengar intonasi dan nada suaranya sehingga hanya murni tulisan dan emoticon belaka dimana itu semua rentan menimbulkan salah paham, dan jika dibiarkan bisa menumpuk dan menimbulkan perselisihan antar netter.
Oke lah saya setuju dgn pendapat bahwa romantika tersebut juga terjadi di pergaulan dunia nyata. Jadi semua itu hal biasa, tidak dipengaruhi oleh tak adanya komunikasi non verbal. Jadi kalau gitu masalahnya adalah sangat kurangnya sikap positif dalam menanggapi suatu artikel atau komentar, kurangnya keinginan untuk mengklarifikasi apa maksud sebenarnya dari suatu pendapat sehingga terjadilah perselisihan atau woro-woro menurut mas EM yang sebenernya gak penting. Belum lagi ada sikap sok penting, sok paling bener sendiri sehingga marah jika ada bantahan dari netter lain padahal bantahan belum tentu salah, mungkin hanya cara penyampaiannya aja yang gak tepat tapi isi bantahannya benar
Kira-kira gitu deh….apakah mas EM merasakan hal itu?!
Wah, puisi yang membangkitkan semangat nih.
*duduk di pojokan menunggu letusan..
*kopi diseruput
Kalau itu disebut puisi, bagus banget. Tapi kalo itu disebut letusan, bentar lagi akan berubah menjadi ledakan saking dahsyatnya kata-kata… minum kopi bareng yok.
-Ade-
ada apaan sih Mus?
Patah hati? cewek kayak gitu aja dikejar kejar…
udahlah…
aku aja nggak minat sama dia…
ngapain sih, kamu ampe rela mati segala?
@anakrimba
Keren bro, dan aku setuju kalau dunia itu indah, dan kita harus bisa survive dalam dunia yang liar ini
Meskipun sayang-nya tidak semua memiliki semangat itu. Terlebih, lagi hasil dari bentuk pemaksaan dan tekanan yang secara tidak langsung membuat semangat itu luntur
Btw, itu bukan-nya lirik lagu-nya Slank yang judul-nya “Tonk Kosong” kan?
@caplang™
ya?
Iya, iya tahu, lagi kedatangan sindrom bayut
*kemplang caplang*
@rozenesia
. Tapi kan tidak harus meditasi dulu kita baru sadar kan?
Akur Bro
@NuDe
sedikit banyak aku percaya, tapi kalau bukan kita, siapa yang memulai perang
dan juga, kalau bukan kita siapa yang men-cipta-kan per-damai-an?
@yonna
sangat-sangat merasakan Na, peradaban klasik di tengah modernisasi dan ini yang bikin aku secara pikiran gelisah tapi juga ntah kenapa sekaligus bikin aku semakin semangat untuk tegak berdiri
@Hanna
Thanks Han untuk bisa menjadi diri kita sendiri
@morishige
Udah me-letus kok
@Sayap KU
Thx ya. Tapi letusan se-dahsyat apa-pun di satu sisi membawa ke-baik-an bagi dunia kok, bukti-nya hasil letusan gunung-gunung berapi bahkan menyubur-kan tanah rakyat.
*kopi-nya aku pesan satu ya De*
@Swiwi™
*di-hajar Farid dan fans-nya Siwi*
Walah, apa lagi ini, dateng-dateng maen tembak langsung gitu lho, emang ada hubungan-nya Patah Hati ama Meditasi Kontemplasi ya Wi?
Btw, kamu ndak rela aku mati ya Wi?
Hanya satu kata utk semua itu
“cemburu”
Waduh, sajaknya kok jadi penuh luapan amarah nih, Bung Militis!
Ekspresinya meledak-ledak banget. Sabar, sabar, ya Bung. Orang yang mencaci-maki *halah sok tahu* belum tentu lebih baik daripada orang yang dicaci-maki, kan?
wah ini eskpresinya begitu meledak dan menggelora, asal jangan emosi aja ya
Nah lho!
Ternyata bisa juga bikin kata-kata dengan rima begitu
Sajak juga itu namanya. Siapa bilang tidak?
*save-as*
Request: kirim ke media massa donk
Kalo dapat honor kan bisa dibagi
@CY
lho apa yang harus di-cemburu-in bro?
@Sawali Tuhusetya
Emang sih Pak Guru, belum tentu mereka lebih baik dari yang di-caci, tapi kenapa kadang kita lupa me-lihat ke-bawah, di-saat kita sedang di-atas?
@andrias ekoyuono
Ndak marah kok bro, sekali lagi ini bukan-kah damai itu indah?
@alex
Waduh, biasa aja kok bro, ini juga keluar begitu saja, ndak pake rencana
Wakaka, aya-aya wae, atuh…
tapi letusannya ga sampe siaga satu kan?
@almascatie
nyaris bro, nyaris
Puisi yg bertenaga.. Saya sampe tersengal sewaktu membacanya, karena merasa ada sesuatu dari diri saya yang ikut terwakili oleh puisi ini..
Keren.. Keren..
nah… mulut dan mata yg mencaci dan menusuk itu yg cemburu… bukan ente… wahahaha…
soal masalah yang lagi “hot” di blogsper, saya ikut ambil bagian. jadi penonton…
*nyruput cappucino*
Ane sudah meditasi. alhasil, nama ane berubah…
Perang Blogosphere yang aku ikuti memang tidak banyak, hanya bebrapa dan kebanyakan diantaranya sering tidak menjadi prioritas karena banyak alasan.
@qzink666
Thanks bro untuk appraise-nya, dan yeah kita sama-sama ter-wakili
@CY
mulai besok aku bakal pake helm perang sekalian aja deh
@cK
nonton emang lebih baik daripada nge-rusuhi kok chik
cappucino-nya masih ada?
@Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
Halah, berarti hasil meditasi-nya kurang itu
Harus-nya kan nambah dikit lagi:
Abu Onta Al-Lesehanlalapanhallalantayyibannypenyet
@Mihael “D.B.” Ellinsworth
mengikuti tidak mengikuti, tidak akan menjadi limit buat kita, menginginkan iklim yang lebih baik bukan bro?
sajak yg mantabss
tapi sudahlah bro biarlah dia berlalu dgn pedih dan bahagia pilihannya
*apaan seh ini $%-*
Wah… ternyata bisa juga nih bikin puisi. Agak surprise juga lho!
Tapi katanya bikin puisi lebih afdol atau lebih mudah kalau hati kita sedang dirundung perasaan emosional baik itu emosional kesedihan, kebahagiaan, cinta, dll. Bener ngga sih??
@’K,
wakaka, pilihan? ndak ada hubungan-nya Jenderal
*timpuk Jenderal dengan granat*
@Yari NK
Ndak kok mas, biasa aja
Seperti-nya sih seperti itu mas, sering sekali otak kita emang bekerja dengan lancar setiap kali kita lagi dalam kondisi seperti itu
*Melongo*
Ternyata saya udah banyak ketinggalan berita di blogospere ini. He…
“Apa aku harus pergi
Sambut gelap-nya dunia yang begitu terang?
Apa aku harus sembunyi
Dari sepi-nya dunia yang hingar bingar ini?”
Sebuah pertanyaan retoris yang naif, tapi kadang memang membingungkan.
Nice post kawan.. i miss u so much!
@undercover
Weks, Herd? Udah pulang bro? Selamat Datang Yaks
meskipun per-tanya-an ini sering jadi ke-nyata-an tanpa perlu di-pertanya-kan kan bro?
*stress lihat puisi lagi*
kenapa semua orang bisa bikin puisi ya?
uuuuhhhh….manstap…manstap…
*nyocol pisang keju ke dalam coklat sambil minum kopi panas*
@mardun
tanya-ken pada rumput yang ber-goyang
aku ndak bisa puisi, ini mengalir begitu saja, sebuah kontemplasi pikiran, dari hasil meditasi
@tukangkopi
*pesen pisang keju-nya atu*