Tidak, dia bukan pengecut, bagi-ku dia malah sangat berani, berani mengambil keputusan yang mungkin adalah salah satu keputusan terberat dalam hidup-nya, di-mana di satu sisi, dia sangat mencintai masyarakat tempat-nya mengabdi selama ini, memberikan mereka setitik kebahagiaan, dan di satu sisi lagi dia menjadi korban ke-munafik-an manusia-manusia yang tidak ber-tanggung jawab. Dia pernah bilang:
“Aku masih punya harga diri, dan aku memilih untuk keluar dari sini sebelum di-usir oleh mereka. Ya, kalau memang mereka punya otak dan punya moral, tapi alangkah sakit-nya ketika mereka ternyata hanya beda tipis dengan binatang, yang tidak punya hati, bukan untuk-ku, tapi untuk mereka, masyarakat yang masih membutuh-kan bantuan”
Galau-nya kala itu, yang juga aku amini dalam hati, karena aku juga merasa-kan hal yang sama seperti yang di-alami-nya.
Satu lagi, teman-ku akan pergi, pergi jauh dari sini. Pergi ke tempat yang mungkin akan lebih baik dari sini, tempat yang mungkin akan lebih baik bagi dia. Dia telah memutus-kan untuk mengundur-kan diri dari kantor ini. Kantor yang bagi dia dan juga bagi kami seharus-nya tempat-nya untuk mengasah diri, tempat-nya untuk menyumbang-kan pengetahuan yang dimiliki-nya demi kepentingan masyarakat.
Tetapi dia memang harus pergi, dia sudah capek dengan segala ke-kotor-an, management disorder, ke-subjektif-an dan bukan ke-objektif-an, dan semua kekacauan yang ada di-kantor kami yang menurut-nya adalah kantor laknat, dimana sebagian besar manusia-nya selalu berusaha meng-hindari ketika masalah datang, yang ujung-ujung-nya selalu menempat-kan dia dalam posisi yang sulit ketika dia harus ber-hadapan dengan manajemen dan masyarakat, seperti yang selalu di-ceritakan-nya kepada-ku ketika kami sama-sama sedang suntuk, sedang marah.
Kurang apa coba, dia yang seharus-nya ber-dasar-kan kontrak-nya hanya bekerja 40 jam seminggu, ternyata harus meng-habis-kan waktu sampai hampir dua kali lipat dari yang seharus-nya, tapi dia tidak pernah merasa berat, karena dia ingin pekerjaan-nya tidak sia-sia, dia ingin melihat masyarakat menjadi lebih bisa mengerti tentang apa yang nama-nya kesehatan itu, bisa buang air di WC, bukan di-rumput atau di-sungai, bisa mandi di kamar mandi yang layak, bukan di air sungai yang sudah ter-campur dengan kotoran yang ber-warna ke-emas-an.
Aku tahu dia sangat sedih, dan kesedihan itu jelas terlihat dari wajah-nya dan ditambah kulit-nya yang hitam legam, semakin menambah aura kesedihan yang di-rasa-kan-nya. Dia merasa belum cukup mem-bahagia-kan masyarakat yang selama ini telah menjadi teman-nya, setidak-nya 2 tahun terakhir ini. Dia tahu dia akan rindu dengan senyum sumringah anak-anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu yang sebenar-nya masih membutuh-kan-nya.
Aku hanya bisa ber-kata kepada-nya:
Selamat, kamu ber-hasil keluar dari kantor laknat ini, dan tenang-lah, rezeki ada di tangan yang Di-Atas, yang penting kita ber-usaha, karena selama kita ber-buat baik, selama kita profesional dan jujur dalam bekerja, aku yakin kita bisa men-dapat-kan yang ter-baik. Dan lihat-lah, aku akan menjadi orang yang berikut-nya setelah kamu.”
![]()
Kami ter-tawa ber-sama-sama, tawa yang hanya bisa kami lakon-kan ketika kami sedang senang, ketika tidak ada beban di-hati kami. Alangkah indah-nya.
Selamat ber-juang kawan di-tempat yang lain, mudah-mudah-an kita bisa ketemu lagi di tempat yang lain, bekerja ber-sama lagi. Aku akan tetap di-sini, setidak-nya untuk sementara ini sampai aku juga pergi sebentar lagi, aku akan tetap men-dukung-mu, sama seperti-mu mendukung-ku juga.
Yang penting, kita jangan pernah lupa, kalau kita hidup untuk mem-bahagia-kan masyarakat, bukan untuk membuat mereka menangis, dan lebih baik kita yang menangis, daripada mereka yang menjadi korban.
DIarsipkan di bawah: Cerita-Ku, Dengar-Ku, Otak-Ku, Rumah-Ku | Tagged: Cerita, harga diri, hidup, teman





























Perjuangan dalam kehidupan tidak akan pernah berhenti selama kita masih bernafas.
Selamat berjuang juga …
@deKing
Yupe itu sudah pasti bro. Keyakinan yang harus kita pupuk, dan berani menunjuk-kan kalau kita bukan barang mainan semata
Ikut mengucapkan selamat jalan juga. Dan sepertinya memang sudah saatnya.
@danalingga
Yah bro, udah saat-nya dia harus pergi, mendapat-kan yang ter-baik untuk-nya.
Salut untuk orang-orang yang berani berkorban demi prinsip….
*terharu*
kirain meninggal dunia
@itikkecil
Aku juga salut kok Ra, thanks untuk dukungan-nya
@’K,
terima kasih untuk ke-terharu-an-nya Jenderal
Fyuhhh….
saat perpisahan itu tiba, biarpun sudah bersiap selalu tidak mudah.
saat perjumpaan tiba, jarang kita bersiap namun lebih mudah biasanya
Menjadi “hanya” sekeping mata uang logam
*maaf, agak OOT*
Bukan selamat jalan yang kuucapkan, tapi selamat berjuang an selamat menapaki jalan ke depan.
@goop
tentu saja Goop, semua rasa-nya terlalu cepat, seperti-nya baru saja kami ber-temu
@rozenesia
Dia memang seorang pejuang bro dengan segenap semangat dan keberanian-nya, thanks
smoga dia bisa mendapatkan yg lebih baik di ‘alam’ berikutnya…
Selamat berjuang untuk kita semua. Pemenang ialah mereka yang berani melakukan perubahan hidup untuk hidup yang lebih baik.
Hanya keberanian yang membuat kita melangkah mas, hanya keberanian.
-Ade-
saya juga sempet mau begitu. untung ada rekonstruksi manajemen baru di kantor. ga jadi resign deh hehehe…
met jalan…tetap semangat yah…
melanggar kontrak itu apa nggak di charge lagi…??
@caplang™
Semoga bro. Thanks
Tapi bukan alam gaib kan?
@HANNA
Kalimat yang bagus Han
Aku akan beritahu ini ke teman-ku, dan semoga ini bisa semakin membuat dia semangat. Thanks Han
@Sayap KU
Yupe, memang hanya keberanian De, yang bisa merubah segala sesuatu-nya menjadi baik, thanks
@cK
Kamu enak ya ada rekonstruksi kaya gitu, mem-bersih-kan manusia-manusia ndak ber-tanggung jawab.
Tidak seperti di kantor kami Chik
@verlita
Thanks, aku akan sampai-kan langsung ke orang-nya
@Abu Kuda Al-Laknatullahharromanirrojim
Tidak kok celo, hanya saja kehilangan beberapa fasilitas kalau ngikutin term End Of Mission
Masalah-nya lebih ke referensi sih.
sama kayak chika, setelah ada rekonstruksi ulang alhamdulillah suasana kerja jadi lebih kondusif, bebas maling, bebas penjilat, bebas little bos, bebas intrik, dll
sementara dulu, kita harus survive memenangkan politik kantor tanpa sengketa. wah asli, saking jahatnya mereka sampe sekarang saya ogah ketemu lagi ma mereka….lebih gak usah berhubungan lagi deh…mengingat betapa jahatnya mereka, dibaekin tambah kurang ajar, eneg
Sebenarnya banyak mas (ndak ngawur lho ini
) yang mengalami hal seperti ini. Namun hanya sedikit yang memiliki kesempatan dan kebulatan tekad untuk segera pergi.
iyoh, saia kira meninggal….
eh, kamu ndak ikotan fergi mus?
ah ya, ikodh ngucafin slamad jalan buad bliau yak! ah ya, mendink suru ngeblog aja! full time blogger geto? mhuehueheuheu
semoga kepergian itu memberikan pencerahan
@yonna
Dinamika kerja di kantor ya sudah pasti akan seperti itu Na, dan kita semua pasti pernah ngalamin hal yang sama. Dan mungkin teman-ku itu tidak akan terlalu pusing dengan masalah itu, seandainya saja itu tidak langsung menimbulkan masalah juga bagi masyarakat tempat-nya bekerja. Ini yang membuat dia menjadi gerah.
@sigid
, dan dia termasuk salah satu-nya yang memiliki kesempatan terbaik itu.
Aku kira juga seperti itu Gid
@hoek
Tenang hoek, aku akan segera menyusul-nya
Wakaka, untuk jadi full time blogger itu, dia masih punya beban moral kepada masyarakat untuk meng-aplikasi-kan ilmu-nya hoek secara langsung
@GRaK
Yupe, semoga bro, thanks
Memang sebuah pilihan yang sulit ketika dihadapkan pada masalah yang sama2 beratnya. Tapi teman Bung Mung Militis sudah memilih “jalan hidup” yang diyakini kebenarannya, dan itulah pilihan terbaik. Salut untuk teman Bung Militis, moga2 mendapatkan “jalan hidup” yang lebih baik sesuai dengan bisikan hati nuraninya. OK, salam.
Semoga dapat tempat dan pekerjaan baru yang baik.
Salam.
@Sawali Tuhusetya
Benar sekali Pak Guru, bagi-ku juga, dia telah menentu-kan yang ter-baik bagi-nya. Thanks Pak Guru
@Emanuel Setio Dewo
Akan aku sampai-kan langsung ke orang-nya mas. Thanks untuk support-nya
Kepergian selalu menyedihkan. Meski kadang ia seperti jalan menuju puncak nikmat. Salam. Baru ini kasih komen!
Good point. Saya setuju banget banget. Karena manusia itu diciptakan-Nya untuk membawa kebaikan di dunia ini.
Keputusan teman mu itu adalah jihad seperti ketika Rasullullah melakukan hijrah. Insya Allah .. begitu banyak manfaatnya dari pada mudharatnya.
Wah..hebat beliau itu mas X, otaknya masih sejalan sama nuraninya. Udah sebegitu parahkah lingkungan kerja situ?
ckckck…
@Pandapotan MT Siallagan
Gpp bang, meskipun baru pertama. Salam Militis!!!
Teramat menyedih-kan bang, tapi yah semoga itu adalah jalan menuju yang terbaik bagi-nya.
@erander
Terima kasih bang, akan aku sampai-kan doa-nya
@tukangkopi
Ya, seperti-nya sudah sangat parah…
Yah, emang, dalam dunia kerja, biasanya yang carmuk sama atasan justru dapet promosi. Yang apa adanya justru dianggap pembangkang…. Tapi dunia itu luas kan?
Kawan, aku akhirnya pergi
ini nih yang paling unda suka,
semoga unda juga gk lupa sama kata-kata di atas
Sikap rela berkorban
ini yang sangat dibutuhkan negeri ini
Lupa emang, gmn perjuangan para pahlawan dulu yang gk kenal lelah sampai titik darah penghabisan. Mereka bisa rela, kenapa kita enggak.
Pioneer, bahasa indonesianya apa y? Pencetus? belum, pendahulu? gk masuk juga, yah apalah. Yang pasti pioneer-pioneer inilah yang ntah kenapa tidak jelas keberadaannya
pioneer yang rela berkorban tentunya, bukan manusia-manusia yang suka memanfaatkan kesempatan demi kepentingan pribadi, tidak melihat masyarakat teriak demi sesuap nasi
huh, masih banyak tuh yang begitu di teras negara sana.
Sekali lagi, lebih baik unda menangis, asalkan orang-orang di sekitar unda bahagia
Sepakat
Anda benar sekali bro
salut
@Junarto Imam Prakoso
Emang sih klise mas, sangat. Dan ya, dunia itu sangat luas. Tapi ada saat-nya di-mana kita harus memilih, apakah ber-tahan dalam “kerangkeng” ke-tidak adil-an dan bahkan menjadi salah satu “sipir“-nya, atau kita ingin keluar dari lingkaran setan itu. Thanks Mas
@celotehsaya hiatus *hoax*

*mode baik: on*
Celo, mau kemana? Jangan tinggal-kan kami di-sini
*mode baik: off*
*mode kejam: on*
Halah, mo pergi? Pergi sana!
*mode kejam: off*
@anakrimba

Thanks buat appraise-nya bro
Kita patri sama-sama kalau itu bukan hanya sekedar kata-kata, tapi kita juga harus melakukan-nya.
Sayang-nya sekarang jumlah yang seperti itu sudah tidak banyak lagi Nda. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa-kah aku salah satu dari para pejuang itu.
wah..wah..aku kira ninggal.
Tetep semangat mas..
@sarah
Sorry kalau judul-nya mem-bingung-kan. Thanks sarah
Salam Militis!!!
Semangat bro… jangan terlalu tergesa-gesa mengundurkan diri. tapi kalau memang sudah saatnya…. berangkat aja
*nangis-nangis*
*melangkah gontai kerumah yang sudah tidak ada*
Uh… emang berat Mas bekerja dalam sebuah team yang ga solid. Kebanyakan hanya tampil N nongol klo project ntu succes, tapi klo down, entah kemana wajah mereka.
@mardun
Sudah di-rencana-kan dengan matang euy
*ngepak-ngepak tas*
@celo sudah mati kawand
*ngirim sapu tangan ke celo*
*muterin lagi “I Will Survive” buat nghibur*
*nempel ujar-ujar “Mati Satu Tumbuh Seribu” di jidat celo* Semangat!!!
@goes
Emang sih kalau di-pikir-pikir klise sekali, tapi yah, kalau semakin lama semakin mem-buruk dan bukan-nya bikin kita semakin baik, aku ber-pikir kita semua pasti ndak mau berada dalam lingkaran setan itu terus menerus…
Btw, thanks buat saran-nya, aku akan per-timbang-kan bro
Saya setuju dengan sikap temen mas extrem yang ciao dari kantor. Jangan pernah jadi manusia yang mau ber – evolusi dengan kinerja kantor yang nggak genah, virus itu mas.. jika terlena kita akan diubahnya menjadi manusia2 pengecut, gak ada harganya diri kita meski sebaik apapun posisi kita. Sekarang jamannya revolusi mas, seperti yang temen mas lakukan itu. Karena gak ada yang manusia dapatkan selain yang diusahakan. Semoga saya juga ingat hal ini selalu. Salut dan salam buat temen mas dari undercover, he…
@undercover
Thanks. Akan aku sampai-kan langsung ke orang-nya bro. Dan semoga dukungan ini bisa menjadi salah satu pe-nyemangat bagi dia untuk seterus-nya
dan… saya ikut berdoa kiranya bossmu jgn terbaca posting yg ini sebelum waktunya tiba…
@CY
wakaka, ndak pa pa kok bro, silah-ken dia mem-baca-nya
kok lama sekali update-nya. ada yang kurindu dari bahasamu, kawan