Entah Masih Sempat
Ada jendela yang ter-buka, dengan semilir angin menyejuk-kan mem-beri-kan damai. Ada satu pintu yang di-tuju untuk di-buka dan akan di-lewati. Hujan lebat itu akan selalu ada, dan mendung itu akan selalu gelap, tapi langkah-langkah kaki tidak-lah seharus-nya ber-henti, ketika belum saat-nya ber-henti.
Masih ada matahari yang menunggu di-sana, menunggu ketika dia menyinari, dengan sengatan lembut-nya di pagi hari, di-selingi terik-nya di siang hari, hingga akhir-nya mewarnai emas lembayung senja, ketika matahari harus kembali ke peraduan-nya
Lampu temaram, meng-hiasi tiap sudut jalan ini, dengan langkah gagah dan maskulin dia ber-jalan serasa jalan itu adalah milik-nya. Dan oh bukan hanya jalan, dunia itu hanya milik-nya. Segala sesuatu-nya seperti sempurna, se-sempurna terbit-nya matahari di pagi yang cerah.
Tawa riang, dan tawa nafsu sedikit di-paksa-kan meng-gelegar di-tengah hiruk pikuk keramaian, dengan tetes demi tetes cairan duniawi meng-gelegak di dalam tenggorokan. Waktu ber-jalan cepat, dan tidak akan pernah ber-henti apalagi kembali, dan pintu itu masih ter-tutup dengan jendela sedikit ter-buka.
Darah ber-warna merah pekat, menetes-netes di lantai keramik licin, di-sela ke-ramai-an manusia-manusia yang men-cari sesuatu yang belum tentu mereka ingin-kan. Tidak ada yang tahu, semua-nya ber-jalan seperti ada-nya, hanya bau amis darah saja yang meng-gusur wewangian dalam setiap hirupan udara.
Ter-seok-seok dia ber-jalan di jalan sepi, siluet hitam pekat bayangan semu menari-nari dengan lampu temaram yang semakin redup, Ber-jalan pulang dengan jalan yang sudah tidak sama lagi. Hilang sudah senyum sang Don Juan, ber-ganti tetes demi tetes darah, yang masih ber-warna segar, dan hanya gemerisik rerumputan di-selingi suara pasir yang buyar ter-kena pijakan kaki yang di-tarik dengan berat.
Dia, ter-tusuk belati di perut-nya, dan dia tidak tahu apakah dia masih sempat untuk menengadah meng-hadap sang pen-cipta-nya, dan dia hanya bisa meng-gumam di-saat-saat terakhir-nya “Tuhan, ampuni dosa-ku”
[catatan:]
- Aku tidak tahu postingan ini ter-kategori-kan sebagai apa, tertulis begitu saja seperti apa yang ingin aku tulis-kan.
- Gambar di-ambil dari sini
DIarsipkan di bawah: Extremus-Militis, Kontemplasi - Ku | yang berkaitan: abstrak, Extremus-Militis, kontemplasi





























Ugh, kalo begitu saya harus waspada, nih…

jangan sampai ada belati yang nyasar di perut
________________________________________
sip, bang fuitis sangadh
*hoek, pinjem bhasanya bentar*
eh… ini gara-gara mabok ya?
masa lalukah?
wow… ngeri…
. . . semoga diampuni dosamu nak…
*ditusuk belati*
*berdoa’a*
Tuhan jangan kau ambil nyawaku dahulu sebelum………………….. *mati duluan* ……………
@goop
Hahaha, boleh juga tuh, waspada akan segala hal kan baik.
Tapi ada hubungan-nya gak ya? Aku juga bingung Goop
@itikkecil
Ndak kok Ra, aku kan ndak pernah pake acara mabuk
@caplang[dot]net
Auk ah gelap
@warnetubuntu
Ngeri? Apa-nya yang ngeri bro?
@Andrew Wijaya

Seperti-nya situ bisa mati beberapa kali baru keder bro
*tikam-tikam celo*
saia merinding mbacanya…
*ngumfedh dibalik meja oferator*
*gemeter smbil ngumpet kolong meja*
@Hoek Soegirang
Wakakaka, bingung, kok Hoek jadi ke-takut-an yaks
*geser-geser meja operator*
@goes
Halah, Goes lagi, ikut-ikut-an ke-takut-an
satu lg !
sblom di tusuk
(?)“Saya ga punya Utang-kn Mus?”
sungguuuuhh bukan saya yang nusuk, Tuhan…
saya juga ndak tahu bung militis harus komentar apa ketika komentar ini juga mulucur begitu saja di teks area ini. halah. satu hal yang pasti, dalam keadaan bagaimanapun kita jangan sampai lupa pada-Nya. Chairil Anawar pun pernah bilang:
horor banget! …
woot!
, jangan2 situ yg nusuk.. pas jamannya jadi warrior dulu 
Walau beribu belati menikamku… aku tak akan mati sebelum kau mengizinkanku mati sayang…
duh…postingannya berat. bahasanya puitis. = =!
mudah-mudahan sempat ya..
*mbayangin kejadiannya…*
wah serem…
bagaimana kalo dikasih obat merah…
Rebutan kembang desa ya mas? He…
masih… masih sempet untuk kaburr pokoknya

*OOT mode On*
s..p..e..c..h..l..e..s..s..

*salut*
best regard.
don, matimu diujung belati
tragis, kasihan
mungkin masih sempat
huebat, bikin lagi yaa
wah, bagus sekali bahasanya, Mus.
tambah saluttt deng….
Waduh, yang nusuk siapa tuh bro? Kamu ya?
*adhominem lagi*
Ini beneran apa rekaan aja??
Ya…masih ada matahari disana … masih ada harapan disana
Sastra kelam .. seperti dari endapan rasa yang tersumbat karena tidak kuasa untuk melawan sehingga akhirnya muntah menjadi kata2 kelam, liar dan mengalir begitu saja.
Sastra kelam .. tak memerlukan kaedah karena lahir dari alam yang tak terjangkau siapa pun karena hanya memerlukan jalan keluar melalui kata2 kelam, liar dan mengalir begitu saja.
Itu pendapat abang atas pertanyaan mu di akhir postingan.
duh..sempet gak ya?

kalo dia gak sempet mudah2an gw sempet
Wah iya horor
Wah jgn sampe bunuh diri krn merasa ga mampu nyelesein masalah deh, putus asa? jgn pernah putus asa karena putus asa hanya menimbulkan penyesalan.
Btw moga2 itu orang bisa slamet n idup.
*bunuh diri? paling gak bgt deh
mm.. pada akhirnya manusia akan bertobat juga
Walah replyku barusan ga nyambung BGT hahaha.
Eh bunuh2an gitu apa manfaatnya seh? Masa’ gara2 cewe lgsg ilang akal gt?
*telpun pulisi
santai,..
*bawa kain kasa 2×3cm*
@goes
Hohoho, gak kok Goes, gak sedikit
@niez
Aku tahu Anak-Ku
@sawali
Kesempatan memang selalu ada Pak Guru, dan biar-lah Dia yang menentu-kan-nya
@kw
Biasa aja kok
@warnetubuntu
No comment *mirip kaya di iklan*
@Andrew Wijaya
Sayang
*najis bin abu munajiz*
@cK
Masa sih Chik? Tapi gak tahu juga tuh apa sempet atau tidak
@Moerz
*ngirim obat merah satu kontainer ke moerz*
@undercover
Hahaha, ide yang sangat tidak ke-laki-laki-an
@almascatie
hayo mo kabur ke-mana, mo nyalahin aki ismet lagi?
@rickisaputra
Best Regards Too
Salam Militis!!!, Thanks udah mampir
@hadi arr
Apa-nya yang di-bikin lagi nih?
@Hanna yang lagi hiatus
Waduh Han, gak ada hebat-hebat-nya kok
@danalingga
Wahm suudzon itu. Btw, misal-nya iya kenapa dong? *ber-tanya lugu*
@Pradityabrainstorm
Jawab-nya singkat: Gak bisa komentar bro
@deKing yang lagi-lagi sedang sibuk lagi
Seperti-nya itu harapan semua orang yaks bro
@erander
Thanks bang atas pen-dapat-nya. Ini benar-benar abang-ku
@tukangkopi
Iya ya, mudah-mudah-an situ sempet, kalau gak bakal ketinggalan kereta lho?
@yonna
Ini bukan tentang bunuh diri kok Na, dan juga bukan hanya sekedar bunuh-bunuh-an (apalagi hanya gara-gara wanita)ketika nyawa lepas trus mati. Tapi ini mungkin, sekali lagi mungkin lebih dari itu, aku sendiri tidak tahu
@brainstorm
Semoga bro
@bayu
Oh boleh, ambulan-nya sekalian yaks bro
Sempat atau pun tidak, yang jelas si Don Juan telah memiliki niat di dalam hatinya.
Mudah-mudahan bisa menjadi bahan pertimbangan seandainya benar-benar tidak sempat.
smoga kita selalu diberi pencerahan untuk selalu bersyukur
*mengecek mayat si ‘Don Juan’*
“Ah, gak kenal! bukan geng-nya saya….”
*ngambili dompet & HP si Don…*
*kabur…*
Ass, wah tulisanmu ini amat terkesan dalam…saya suka penempatan kata dan kalimatnya salut deh…walau jujur nih saya kurang paham makna yang terkandung di dalamnya yah saya bukan sastrawan hanya penyuka kalimat dan kata-kata yang indah tapi yang lebih dahsyat semua mengalir dari dalam hatimu yup tulis aja apa yang kita rasakan itu indah dan plong dari dalam iya kan? Sip…Wassalam.
ini mabok trus dirampok trus dibunuh gitu?kasian banget?see,hidup seberat itu?
lagi nulis apa ya…
kok aku nggak ngeh. :((
Tapi, kayaknya cukup sebagai luapan isi hati aja ya…
oh gitu ya….maksutnya mas EM membahas dari sudut laen…hehe gak nyambung
kalo masih idup emang dianjurkan rajin bertobat dan meminta maaf ma sesama, kalo ada utang segera lunasi atau kalo gak mampu minta keikhlasan yang diutangin, selesaikan segala urusan yang masih bisa diselesaikan…mumpung hayat masih dikandung badan
Pilihan kata-kata yang bagus banget mas …
-Ade-
waah tulisannya pendek tapi dalam banget nich. Mantaap.
kewl,
potret laki-laki impian jaman dulu.
menukar emosi dan dendam dengan nyawa, kejantanan sebagai bonus tambahan. benar2 laki-laki sejati.
tapi mas,
jamannya dah beda nih
trendnya dah nggak gitu sekarang.
sekarang udah nggak trend membunuh nyawa orang yg gi trend sekarang membunuh masa lalu biar dapat ketenangan jiwa.
huhuhuhu
nice post.
menjadi ragu, apakah Tuhan masih bisa menoleh untuk sekadar menjadi pemberi ampun ?
Jika manusia itu tak pernah peduli juga
pasti masnya lulusan sastra, dengan cum loud IP 3.9
mantab!
Mus… kok komenku ilang?
ada apa ini? ada apa? *panik mode on*
kok bawa2 pisau segala.
@StreetPunk
Yupe, semoga masih sempat dengan niat dan penyerah-an bro, meskipun di-saat-saat ter-akhir
@aRuL
Ber-syukur untuk tiap ke-sakit-an dan ke-bahagia-an
@jensen99
Wakaka…*ngelapor-in jensen ke pos polisi ter-dekat*
@fira
Thanks mbak Fira, bukan-kah kita juga harus melihat dengan mata hati, aku banyak belajar dari mbak Fira juga kok
@stey
Gak tahu juga sih, ntar aku tanyain deh
@eka
Nggak apa-apa kalau emang nggak memahami kok bro.
@yonna
Me-mohon ampun akan semua ke-salah-an, Menyerah-kan sepenuh-nya dengan apa yang kita miliki, ber-syukur akan apa yang kita miliki saat ini, dan menerima apa-pun yang men-jadi kehendak-Nya. Thanks ya Na, untuk tambahan-nya
@Sayap KU
Biasa aja kok De
@guebukanmonyet
Waduh, nggak ada yang istimewa kok, semua-nya ter-tulis apa ada-nya
@bedh
Benar seperti yang kamu bilang kok bedh. Dendam tidak harus di-balas dengan kejahatan. Bahkan kalau bisa, hilang-kan-lah dendam dan jadi-kan-lah ia kasih dalam hati kita
@Iman Brotoseno
Yupe, semua-nya itu memang harus kembali kepada kita, kita yang harus memulai-nya men-jadi lebih baik dari sekarang, dan menyadari ke-fana-an kita di dunia yang semu ini dan juga sementara ini Mas
@otakiphan
Hahaha, tebakan yang salah, ter-nyata
@chiw
Nggak tahu kenapa ya Wi. Aku udah cek Aki Ismet juga nggak nemu lho
@Ina
Nggak ada apa-apa kok Na, hanya sebuah kontemplasi dari apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar, juga apa yang aku alami.