Aku Sayang Keluarga-ku

thumb_siluetkeluarga Tiap kali aku meng-alami masalah, tiap kali aku ingin ber-bagi sesuatu dan tiap kali aku ber-ada dalam situasi dimana aku ingin ber-cerita, ter-lebih lagi ketika aku sendiri, aku selalu ter-ingat akan keluarga-ku, abang-abang, kakak-kakak-ku yang ter-cinta minus Papa dan Mama yang udah duluan ninggalin dunia ini.

Yah, mereka-lah yang pertama sekali selalu siap ketika aku sedang mem-butuh-kan dukungan, mereka-lah yang akan selalu siap sedia meng-hibur-ku ketika aku sedang sedih, ter-tawa ber-sama-ku ketika aku sedang bahagia. Walau-pun dalam per-jalan-an panjang-ku dengan keluarga-ku, sering juga ter-jadi per-selisih-an, per-beda-an pendapat, saling memarahi. Dan tiap kali itu ter-jadi, aku tahu, dan kami menyadari ada ke-sedih-an jauh dalam hati kami.

Aku sayang keluarga-ku karena mereka adalah saudara-ku…

Evolusi Rokok-ku

evolusi rokok[Disclaimer: Posting-an ini mungkin akan mem-buat orang-orang anti rokok se-dunia protes dan marah. Ini bukan IKLAN rokok merek ter-tentu, tidak sama sekali, juga bukan kampanye penyesatan umat untuk me-rokok. Ini hanya cerita tentang-ku saja 8) . Oh, iya, postingan ini juga panjang, dan ber-isi beberapa gambar, jadi buat yang fakir benwit siap-siap buat mengutuk]

Ber-awal sekitar 16 tahun yang lalu, aku besar di-tengah ke-disiplin-an yang di-terap-kan oleh Papa dan Mama, dan ter-jepit di-antara tuntut-an lingkungan-ku yang emang mem-buat-ku harus ber-main-main dengan hal-hal yang tidak biasa. Dan dengan rasa-nya yang emang sangat nikmat, rokok dulu adalah salah satu cara bagi-ku untuk menunjuk-kan eksistensi-ku di-tengah-tengah per-gaul-an-ku. Nah di-sini aku nggak bakal-an cerita tentang per-gaul-an-ku, tapi akan menunjuk-kan evolusi rokok-rokok-ku sejak dari awal, pertama kali aku merokok sampai sekarang. Ter-inspirasi dari per-tanya-an si Gun di-sini.

Ini bukan iklan rokok tapi evolusi rokok…

Aku Juga Nggak Bodoh

thumb_I-Not-Stupid-Too- Sephia Cover Ada yang pernah nonton film “I Not Stupid Too“? yang kalau dalam bahasa Indonesia secara serabut-an di-artikan sebagai Aku Juga Nggak Bodoh. Film keren (menurut-ku) produksi negara Singapura ini benar-benar me-wakil-i apa yang saat ini ter-jadi dalam dunia keluarga dan dunia pen-didik-an yang sering aku lihat dan aku dengar. Bahkan bisa saja men-jadi salah satu alasan-ku untuk mematah-kan pendapat-ku sendiri pada postingan-ku sebelum-nya tentang hilang-nya rasa hormat ter-hadap orang tua :|

Inti kisah dalam film ini ter-diri dari 3 poin utama yang sering kita jumpai dalam ke-hidup-an kita sekarang, dan meski-pun mungkin ini adalah cerita basbang, tapi aku yakin masih sering ter-jadi, bahkan di dalam keluarga kita sendiri.

Yang bilang kamu bodoh itu siapa?

Pak Lik Soeharto Mati

Pak Lik Soeharto Akhir-nya dia mati. Aku tidak tahu, ber-pikir-pun dia tidak tahu
Se-andai-nya-pun dia tenang dalam mati-nya
Itu karena dia memang ingin mati dan pasrah
Kalau-pun dia tidak tenang dalam mati-nya
Itu karena memang sudah waktu-nya dia harus mati

Ter-serah dia mau atau tidak
Aku lihat terik mentari, semua sedih, tapi mereka juga ter-tawa ter-bahak-bahak dengan muka ber-semu merah
Aku rasa sengat matahari, semua senang dan tertawa, tapi mereka juga menangis sendu dengan mata bengkak me-merah

Yang ter-sisa hanya tangis dan tawa
Tapi ada juga ke-gembira-an, ke-bangga-an sekaligus ke-duka-an
Seperti kata pepatah ber-kata
“Gajah Mati Meninggal-kan Gading, Manusia Mati Meninggal-kan Budi”
Entah dia baik, entah dia buruk, biar hati, rasa dan otak yang ber-putar menebak
Baik bagi mereka, belum tentu baik untuk mereka juga
Buruk untuk mereka, belum tentu buruk bagi mereka juga

Dia pernah dengan gagah-nya naik ke Istana itu
Tapi dia juga pernah dengan menunduk lengser di-amuk mereka
Dia pernah jadi Pahlawan, semua orang ber-lomba menjilat kaki-nya
Dia pernah jadi Pesakitan, semua orang ber-lomba meng-injak-injak-nya
Kita yang memilih, di-maaf-kan atau me-maaf-kan

Ruang Kembara Imaji

thumb_ruangkembaraimaji Aku tulis-kan sambil menyeruput se-cangkir kopi kental, dengan rokok yang asap-nya mengepul lurus ke-atas, sambil men-dengar-kan sebuah lagu klasik indah “Air – From Orchestral Suite No.3“, sebuah nomor dari Johann Sebastian Bach yang mengalun dengan sangat lembut

Dalam ke-hening-an…