Bulan Puasa di Mata “Yang Lain” Ketika Puasa Bukan Suatu Kewajiban

tandatanyabingung.gifKemarin, siang menuju sore, aku lagi nyetir mobil, dengan mata setengah ngantuk, dengan tekad bulat pulang ke rumah dari sebuah acara dan target kasur-ku yang empuk, hentakan musik Led Zeppelin bikin aku sekali-sekali tersadar dari rasa ngantukku yang sudah stadium 4. Aku terkaget-kaget ketika di tengah ruas jalan yang biasanya lengang, kali ini penuh dengan orang-orang dengan berbagai model, bentuk, dan rupa, dan aku nyaris menabrak salah seorang dari mereka. Aku berhenti, meng-observasi dan mencoba memahami apa yang terjadi.

Setelah sebentar berdiri dalam bingung akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa sedang terjadi pertengkaran. Pertengkaran? Tentang apa? dan Kenapa harus ditengah jalan? Apa tidak ada tempat lain yang lebih layak misalnya disini, atau disini, atau mungkin disini. Aku harus mencari tahu, ooppss…bukan berarti aku mau tahu. Hanya ingin mendapatkan penjelasan atas terganggunya perjalananku menuju kasurku yang sudah menunggu di kamarku.

Suara ribut-ribut masih terdengar dari kedua kubu yang lagi berperangtengkar,saling membenarkan apa yang menurut mereka benar. Semakin lama semakin memanas, dan akupun semakin muak, sebelum rasa muak-ku hilang, akhirnya aku mendapatkan penjelasan bahwa ternyata masalahnya adalah “Puasa”

Sore itu, beberapa orang yang entah darimana datangnya sedang bergerombol sambil mengisap rokok, dan membeli makanan dari sebuah warung makan (ya iyalah, gak mungkin toko kelontong kan?), ketika mendadak datang beberapa orang lainnya, tanpa permisi, tanpa memberitahu, tiba-tiba mengawali percakapan yang akhirnya dilanjutkan dengan percakapan lanjutan:

A: “Apa-apaan ini? Ini kan bulan Puasa, bulan yang seharusnya di hormati”

B: “Hormati? Hormati siapa dan apa?”, jawab gerombolan pertama

A: “Hormati agama Islam dong, ini kan sedang bulan Puasa, jangan seenak perutmu merokok, mendatangi rumah makan dan makan, sedangkan kami umat muslim berusaha menahan hawa nafsu”

B: “Eh, maksudnya apa ini?, Kamu siapa, aku siapa? Apa aku harus menahan lapar dan haus, menunda untuk mengisap rokok yang menjadi hak-ku demi menghormati kalian? Padahal Puasa bukan kewajiban bagi kami orang Kristen, kenapa kamu kok maksain kehendak dan kewajiban agama-mu kepada kami? Apa kami harus menunggu sampai jam berbuka baru kami boleh makan dan merokok? Apa harus begitu?”

A: “Setidaknya kalian harusnya memahami bahwa kami sedang melaksanakan ibadah Puasa, jadi jangan sewenang-wenang beli makanan di tempat umum. Ini kan Indonesia, dan mayoritas masyarakatnya adalah agama Islam, dan ini adalah syariat bagi kami”

B: “Apalagi ini? Oh…jadi karena ini Indonesia yang penduduknya beragama Islam, kami yang dari agama-agama lainnya harus tunduk pada peraturan kalian? Padahal kami sudah cukup berusaha memahami dan mengerti, dan bahkan kami tidak pernah dengan arogannya mendatangi kalian yang sedang Puasa sambil menunjukkan makanan atau rokok kami. Dan begitupun, kamu masih melarang kami? Kami hanya ingin makan karena kami lapar. Itu saja”

A: “Tetapi seharusnya kalian jangan makan di tempat umum, kalian harus menghargai tradisi dan keyakinan orang lain dong”

B: “Lho, kalau Indonesia itu mayoritasnya Islam, disinipun mayoritasnya Kristen, apa kami pernah memaksa kalian untuk mengikuti apa yang sedang kami lakukan?, apa pernah kami memaksa kalian untuk memasang pohon Natal ketika kami sedang merayakannya?”

A: “Kami tidak tahu itu, ini adalah hukum syariat agama Islam, dan kami harus menegakkannya, dan kami tidak bisa melihat orang-orang yang sepertinya sengaja mengganggu kekhusyukan kami melaksanakan ibadah Puasa kami, pokoknya kalian tidak boleh makan disini, kalau pun ingin makan cari tempat yang lain”

B: “Kami tidak akan mengikuti pemaksaan yang seperti ini. Saya sudah katakan bahwa kami hanya ingin makan karena kami lapar. Dan kalian tidak punya hak untuk melarang kami sebagai manusia, bukan melihat dari agama kami, untuk mengikuti tradisi dan ajaran kalian. Yang penting kami menghargai kalian, sejauh yang kami bisa untuk menghargai tapi kami juga manusia yang butuh makan.”

Percakapan pun semakin memanas, dan dilanjutkan keluar dari warung makan, dimana disaat yang sama aku sedang lewat, dan akhirnya harus berhenti akibat pertengkaran ini. Aku bingung, dan bertanya-tanya sendiri dalam hati, sambil ngelanjutin nyetir mobil untuk melanjutkan perjalanku, otak-ku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan, yang beberapa diantaranya: apa memang begini? siapa yang salah, siapa yang benar ini? haruskah terjadi seperti ini?

Dan aku ingat bahwa kejadian seperti ini sudah cukup sering aku temui. Bahkan dulu, lama sekali, ada teman yang curhat kalau pada saat bulan Puasa itu di suatu kantor disuatu daerah dimana mayoritas orang-orang di kantor itu dan di daerah itu adalah penganut agama Islam, dia terpaksa hanya makan hanya satu kali sehari pas orang berbuka saja.

Dengan heran, aku tanya kenapa, dia jawab, memang begitulah adanya dan mau tidak mau harus begitu (ini udah dialaminya selama 5 tahun terakhir sampai di cerita ke aku dulu), karena kalau tidak teman-teman kantornya bakalan tidak senang, dan menurut pengakuannya ceritanya, hampir 95% yang menegur dia pada saat dia ingin minum atau makan pada saat bulan Puasa setelah waktu sahur sampai sebelum waktu berbuka. Katanya dia pernah coba untuk membuat secangkir kopi saat dia baru saja tiba di kantor dan belum meminum apapun untuk sarapan, tapi dengan masam orang-orang memandangnya dengan aneh ketika sedang menyeduh kopi, bahkan ada yang dengan ekstrim menegur”Tolong, ini bulan Puasa!“.

Setahu aku Islam itu tidak seperti itu, tapi kenapa (dan bukan hanya satu orang, dan bukan hanya beberapa orang, bahkan satu kantor-pun melakukan hal yang sama) masih ada dan sering terjadi seperti itu?. Apakah ini ulah oknum saja? atau memang ini adalah bagian dari tradisi dan keyakinan?

Aku tidak tahu dan aku tidak bisa menjawab, terlalu banyak pertanyaan yang sekarang berserliweran di kepala-ku melihat masalah ini. Saat ini, aku hanya membayangkan ada orang-orang, teman-teman, yang bisa membantu aku memberikan jawaban.

Sighhh… tidak tidak mungkin seperti itu, tapi emang terjadi…..bingung aku…


extremusmilitis TAGS: , , , ,
Technorati TAGS: , , , , , , , , , , , , , , ,

26 Tanggapan

  1. BALES PERTAMAXXX!!!

  2. KEDUAXX SEKALIAN AHH…
    *siul-siul*

  3. hettrix skalian…hohoho

  4. emang masi ada juga segh orang-orang yang nge-sok bgitu, marah-marah cuma gara-gara pemeluk agama laen pada menggoda…hohoho
    padahal, yang namanya fuasa juga menjaga amarah, n sebenerna malah bisa dijadiin ladang fahala kalo misalna mo sabar…

  5. wah, mkasi sangadh atas sarannya, tapi saia suda nyoba tetep ga mau he…
    cuma itu-itu aja yang muncul…
    knafa ya?

  6. DOUBLEX HETTRIX AHHH….

  7. wakakaka…
    terima kasih, terima kasih untuk double hetrixnya:mrgreen:

    btw, untuk problem-nya strange abis yaks🙄
    *terbang ke rumah hoek*

  8. aneh tapi nyata,,
    mudah2an saya tidak termasukorang2 yg minta dispensasi ketika puasa
    amin

  9. @K
    yupe, makanya aku bingung dan bingung🙄
    mudah-mudaha ya bro, karena seandainya itu pun terjadi, seharusnya itu malah jadi tantangan untuk mencapai tujuan puasa yang sebenarnya kan?
    *masih tetap bingung*

  10. Kalau muslim menyuruh orang lain untuk menghormati mereka yang sedang berpuasa (dengan cara tidak makan dan minum di tempat umum) apakah itu tidak berarti muslim itu malahan tidak menghormati hak orang lain tsb (untuk tetap makan dan minum mengingat orang2 lain tsb memang tdk berpuasa)? Bagaimana kita bisa meminta orang lain untuk menghormati kita disaat kita tidak menghormati mereka?
    Pelarangan tsb justru menunjukkan kepayahan dari muslim yang melarang2 tsb dalam menahan nafsu karena mereka trnyata masih begitu ketakutan akan godaan makanan2 tsb.
    Main analogi sedikit:
    Seorang anak sedang dilatih untuk tidak takut akan kegelapan.
    Jika sang anak tsb hanya dijejali teori2 ttg kegelapan tanpa disuguhi secara langsung yang namanya kegelapan maka proses penggemblengan tsb akan sangat mungkin untuk gagal karena sang anak akan berani dengan kegelapan secara teoritis. Sehingga jika suatu saat dihadapkan pada kegelapan maka dia akan tetp ketakutan.

    Tetapi jika sang anak tsb dilatih menghadapi kegelapan secara langsung dengan dimasukkan ke dalam tempat gelap (tentu saja masih dengan bimbingan dan ditemani) maka peluang sang anak untuk berani menghadapi kegelapan akan lebih besar dibanding cara pertama.

    Nach…begitu juga halnya dalam hal berpuasa.
    Jika seorang berpuasa dengan menyendiri dan menghindari adanya penampakan dalam bentuk apapun maka sama saja dia hanya mencari aman dan menunjukkan kekurangsiapan dia dalam mengendalikan nafsu. Bisa2 begitu melihat makanan maka dia akan tergoda.

    Catatan:
    Saya seorang Muslim.
    Mohon maaf jika ada rekan muslim yang merasa tersinggung oleh komentar saya

  11. loh?
    blom tau ya?
    sekarang kan sebagian umat islam itu jadi penjajah..
    penjajah umat laen gituuu..
    pokoknya islam.. islam.. dan islaammm…!!!
    hidup islaaammm!!!!
    rahmatan lil alamin??
    ah,pokoknya islaaammm!!!
    yeeeyyy..!!!

    *betewe, font buat komennya ndak kurang kecil ini…😦 *

  12. Kita memang sedang dalam tahap belajar bagaimana saling hormat-menghormati antar sesama. Namanya sedang belajar, tentunya maklum jika acapkali timbul kerancuan. Setuju dengan pendapatnya mas Deking, terkadang dengan dalih tidak menghormati, sudah akan menyulut konflik dengan orang lain atau kelompok lain yang diduga tidak menghormati. Padahal pemaksaan kehendak itupun tergolong tindakan tidak menghormati. Terus bagaimana seharusnya? Wah saya juga bingung…. wakaka!
    Tapi yang jelas, seringkali masyarakat kita sendirilah yang tidak siap tehadap segala bentuk aturan atau konsepsi yang seharusnya tetap proporsional menjalankannya. Bahwa tetap ada pihak yang berkepentingan dan ada pihak juga yang kena efek kepentingan karenanya begitu sebaliknya. Namun karena masyarakat kita udik, jadi semacam Euforia, mentang2 aturannya ada jadinya semena-mena. Terkadang perubahan itu ibarat sebuah cahaya terang tapi malah membutakan. Kebalikan dengan mas Deking, jika biasanya kita berada dalam kegelapan kemudian serta merta dinyalakan lampu yang terang benderang tentunya kita juga nggak akan bisa melihat apa2 karena silaunya. Kita ini memang masyarakat kagetan mas. Namanya juga sedang belajar… he.

  13. iya dong, orang islam tuh kan satu2nya calon penghuni surga. wajar dong kalo sewenang-wenang gitu.

  14. *ngakak baca komen sendiri*
    ironis…

  15. @deKing

    Jika seorang berpuasa dengan menyendiri dan menghindari adanya penampakan dalam bentuk apapun maka sama saja dia hanya mencari aman dan menunjukkan kekurangsiapan dia dalam mengendalikan nafsu. Bisa2 begitu melihat makanan maka dia akan tergoda.

    Sepertinya sudah mulai memberi pencerahan nih buat kebingungan-ku, terutama paragraf terakhir dari deKing. Dan kayanya ini nih yang sebenarnya harus di belajar-kan kepada kita semua, meskipun emang harus menghadapi perlawanan tantangan yang sangat kuat dari saudara-saudara kita yang memiliki kekerasan hati disebabkan pembenaran terhadap sesuatu kebenaran yang disalahartikan
    *hiks ini kan bukan pekerjaan gampang😦 *

    @tikabanget
    weks, sabar mbak…, tarik nafas dulu, hembus, tarik, hembus, tarik, hembus…
    *kok jadi kaya yang lagi partus senam yaks🙄 *:mrgreen:
    btw, little-little itu kan indah mbak😆 , sesok-sesok form-ne tak gede-ke yo mbak😛

    @undercover

    Terus bagaimana seharusnya? Wah saya juga bingung…. wakaka!

    sama euy:mrgreen:

    Namun karena masyarakat kita udik, jadi semacam Euforia, mentang2 aturannya ada jadinya semena-mena. Terkadang perubahan itu ibarat sebuah cahaya terang tapi malah membutakan.

    pencerahan itu semakin nyata dan semakin jelas…
    ini sepertinya lebih mempertegas bahwa euforia massa seperti ini yang sering bikin segala sesuatunya menjadi rancu, dan ke-salah kaprah-an yang seperti ini yang harusnya di hilangkan setidaknya di minimalkan. tapi, tetep itu masih saja terjadi, kita tidak harus darimana memulai…sigghhh
    *lirik komen mbak tikabanget diatas🙄 *:mrgreen:

    @antogirang
    sepertinya anto udah dapat tiket menuju surga juga neh…:mrgreen:
    emang sih ironis ya nto?, apa ini termasuk proses penjaminan terhadap situasi yang dipaksakan atau apa ini suatu kebenaran?
    *mengubek-ngubek referensi untuk mencari jawaban*

  16. Hmm…
    Masalah di atas mang sering kita temui.
    Kembali ke pribadi masing-masinglah.
    Ada yang cuek aja ada yang suka ngalah, ada juga yang sok galak.
    Kalo dah bawa-bawa nama agama repot juga ya.
    Btw, postingan tuk komentnya imut bangat nih.Kaya semut kecil yang berjejer.hi3.

  17. @hanna
    yupe mbak, dan takutnya itu sudah menjadi sesuatu yang dianggap biasa
    padahal seharusnya di negara yang multi kultur ini setiap orang seharusnya bisa saling menghargai satu sama lainnya.

    hehehe iya neh, bingung juga kok kecil-kecil amat. sialnya theme wordpress.com gak bisa dimodifikasi sih mbak, jadi gak bisa ngapa-ngapain, manut aja ama pembuat themenya😆

  18. Kalo berdasarkan analisa saya sih, yang marah marah itu lagi nggak puasa tuh. Kan seharusnya kalo lagi puasa nggak boleh marah marah bukan?😆

  19. ahahaha…kasus aneh. saya di kantor malah mayoritas beragama lain. jadi walaupun lagi puasa, tetap tercium aroma-aroma makanan ketika makan siang. tapi entah kenapa saya sama sekali tidak tergoda. puasa itu untuk menahan nafsu khan?! baik nafsu makan, minum, amarah maupun nafsu yang lain-lain yang tidak perlu disebutkan disiini:mrgreen: .

    aneh aja kalau kita menuntut orang lain untuk mengikuti kebiasaan dan tradisi kita. kalau dia belum makan seharian (tidak sahur) masa dipaksa nggak boleh makan sampai waktu buka puasa? bisa-bisa maag, atau kena penyakit lain. dan ini bisa membuat agama islam jadi buruk di mata agama lain.

    tapi kalau larangan merokok di tempat umum ketika puasa, saya dukung! huehehe😆

  20. oh,oh! Agaknya toleransi beragama di negeri yang konon multiagama dan multikultur ini baru kulit luarnya saja, ya? Bisa jadi puasanya nggak bisa klar nih kalau harus terus bertengkar dengan mereka yang nggak sealiran dan seagama. Mestinya nggak mentang-mentang gitu, ya, Bung!

  21. @danalingga

    Kalo berdasarkan analisa saya sih, yang marah marah itu lagi nggak puasa tuh. Kan seharusnya kalo lagi puasa nggak boleh marah marah bukan?😆

    setuju 100%:mrgreen: , meskipun kenyataannya agak sedikit berbeda…

    @cK
    aku juga ngerasa aneh, dan akhirnya yang rugi siapa, yang buruk siapa, iya tha?🙂
    ini dia neh contoh umat yang baik (kuping jangan naek dulu ya cK) bisa beradaptasi dan nunjukkin bahwa bisa ngelaksanain ibadah tanpa harus terganggu dengan kiri-kanan-muka-belakang, salut…salut…salut…

    tapi kalau larangan merokok di tempat umum ketika puasa, saya dukung! huehehe😆

    aku no comment ah ntar di demo lagi ama para perokok:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya
    sepertinya sih emang begitu pak Guru
    tapi yang namanya manusia ya tetep, terlepas dari agamanya lho🙂

  22. Setuju dengan beberapa komentator, jika puasa (menurut saya ya) harus tidak ada godaan di sana dan si sini, maka puasanya ga seru lho! Justru karena ada godaan itu, dan bagi yang puasa bisa menahannya, maka saya acungi jempol deh. Top! Bisa melawan godaan! Bukannya melawan dengan melarang, tapi karena tidak tergoda.

  23. @rozenesia
    yupe bin setuju🙂
    namanya juga mengasah iman bukan?

  24. Mohon Di Camkan Anda tinggal di Indoensia, yang mayoritas Islam bisa di bilang 80% adalah Islam, artinya anda harus ikut peraturan itu, mau tidak mau , bukannya pemaksaan wong Pemerintah sendiri memberlakukan peraturan tersebut. Arti pemerintah mendukung peraturan tersebut. Berarti anda semua yang menataati peraturan tersebut karena itu adalah peraturan yang berlaku disini merasa tertekan silakan tinggal Indonesia pergi aje ke Israel Sono. hehehehehehe.

  25. @fahmi
    ya…ya…aku mengerti😉

    tapi apa-kah anda pernah membayang-kan saudara-saudara kita yang Islam yang ada di belahan dunia lain yang juga hidup sebagai minoritas?
    dan kenapa orang-orang seperti anda pada akhir-nya harus mencak-mencak dan berkoar-koar ketika ada seorang Islam yang di-cekal di Amerika misal-nya ketika umat Islam juga minoritas di-sana, dan anda dengan angkuh-nya meminta saudara-saudara kita yang bukan Islam untuk pindah hanya karena mereka juga merasa ter-cekal? Naif😉

  26. memang skitar 80% pnduduk indo muslim,, but gmn dengan yang 20% lageee…. kita juga arus hargai mrka dunx.. saling2 mghrgai gtla…. thx yaw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: