Obral Nyawa Manusia


forsale.gifSiang ini, mata-ku lagi jelalatan baca koran daerah yang cukup populer di tempat-ku (terlepas dari sekedar mereka nyuri berita, dan emang ternyata benar mereka ngambilnya dari detik seperti biasa), aku terkesima dengan judul yang cukup besar (mungkin ukurannya 20 pake font Times News Roman)Busyet!!!…Nyawa Manusia Hanya Dihargai Rp.4000” yang isinya ngangkat tentang seorang supir taxi dibunuh hanya karena menagih duit pembayaran dari penumpangnya sebesar tujuh rebu, karena ternyata duit si penumpang kurang, hanya tiga rebu, jadinya dia masih ngutang empat rebu.

Gila gak? Dan aku yakin ini bukan untuk pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi, bahkan sangat sering terjadi. Persoalan bunuh – membunuh karena urusan kecil dengan sedemikian mudahnya dilakukan oleh orang-orang di Indonesia tercinta ini, tanpa berpikir panjang dan buntut dari kejadian tersebut, misalnya:

  • Dosa (kalau emang masih percaya dengan Tuhan)

Pertama, ini dia yang mungkin menjadi salah satu hal yang paling menakutkan kalau emang kita masih percaya dengan yang namanya surga atau neraka karena dari kitab suci manapun dan dari agama manapun, membunuh adalah hal yang sangat sangat dilarang apapun alasannya, karena Tuhan yang menciptakan manusia dan memberikan nafas kehidupan bagi tiap manusia, dan kita tidak punya hak melenyapkan nyawa yang bersarang di tubuh sesama kita

  • Tangisan pilu dari keluarga yang dibunuh

Kedua, bagaimana dengan perasaan keluarga yang ditinggalkan oleh sang korban, mungkin saja dia punya anak-anak yang masih kecil dan masih membutuhkan-nya. Apakaha mereka siap dengan kehilangan ini ? yang sudah pasti membawa perubahan drastis dalam kehidupan mereka

  • Ditangkap Polisi

Ketiga, sudah pasti, Indonesia ini negara hukum, dan seorang tersangka pembunuhan pasti akan diganjar hukuman penjara (meskipun sering kalau tersangka-nya pembesar atau keluarganya, hukuman untuk maling ayam lebih lama). Dan para Polisi gak bakalan diam saja dengan ini, dan pasti dengan penuh semangat memastikan bahwa si pelaku mendapatkan ganjaran-nya

  • Dendam

Keempat, apakah masalah akan berhenti di situ saja, kita tidak bisa memastikan, karena banyak ditemukan kalau ternyata ketika adanya pembunuhan lainnya setelah pembunuhan ini ternyata dilakukan oleh sanak keluarga dari si korban yang pertama, ya mungkin mereka tidak siap dengan kejadian itu dimana nyawa salah satu keluarga-nya direnggut dengan paksa, dan mereka pun menggunakan prinsip, nyawa dibalas dengan nyawa, dan begitu seterusnya…mungkin bisa dikategorikan sebagai dendam yang di sentil ama bro Alex🙄

  • de el el

Segitu murah-nya kah nyawa manusia di mata kita dan ini terjadi begitu sering di Indonesia tercinta ini, yang katanya termasuk salah satu negara religius se-dunia, dan begitu mengagungkan yang namanya rasa sosial terhadap sesama, sehingga hanya karena empat rebu rupiah, yang sebenarnya sama dengan harga setengah bungkus rokok, atau mungkin popmie, atau mungkin 2 botol teh botol, kita bisa membunuh dan ngilangin nyawa seseorang dengan mudah-nya. Mana Indonesia yang katanya negara berbudaya, mana Indonesia yang katanya bagian dari negara yang memiliki etika ketimuran?, apa ini sebuah pergeseran moral (seperti yang di singgung oleh Geddoe) yang sudah sebegitu parahnya? sehingga nyawa manusia dihargai dengan nilai yang begitu rendah?

Kenapa masyarakatnya begitu mudah-nya ngelakuin sesuatu yang seperti ini, dan aku masih ingat kalau dulu juga aku pernah dengar tentang seorang anak jalanan yang harus mati hanya karena meminta uang serebu buat makan, aku juga masih ingat kalau dulu ada seorang ibu yang harus mati dipukulin hanya karena dia ngambil beras 2 kilo buat ngasih makan anak-anaknya yang udah kelaperan, aku masih ingat kalau dulu ada seorang kakek yang dibunuh anak-nya yang masih SMU hanya karena gak diberi jajan dua rebu rupiah

Apakah ini karena tatanan budaya, agama, dan moralisme sudah semakin pudar padahal rumah-rumah ibadah semakin banyak berdiri dengan megahnya dimana-mana dengan pandito, pendeta, ustad, kyai, rahib, biksu atau apalah namanya berkeliaran di rumah-rumah, di jalan-jalan, di atas mimbar, berkoar-koar tentang dakwah atau sejenisnya, atau apa ini karena tatanan hukum di Indonesia yang berpaling ketika kejadian seperti ini terjadi, padahal jumlah aparat semakin bertambah dengan motto profesionalisme, dengan gaji yang digodok semakin tinggi, mengalahkan para pejabat?

Tidak…aku yakin tidak ada yang bakalan bisa menjawab, mungkin hanya pendapat yang bisa terlontarkan, ya…hanya pendapat saja. Tapi setidaknya dan sebaiknya mari kita pikirkan bersama, apakah masih ada celah untuk memperbaiki urat-urat yang telah terbengkalai… .


extremusmilitis TAGS: , , ,
Technorati TAGS: , , , , , , , ,

21 Tanggapan

  1. pertamaaxxxx

  2. bacanya tar aja deh abis makan :p

  3. *nungguin ‘K abis makan*….

  4. [OOT mode On]
    Karena sering dicekoki mitos bahwa bangsa Indonesia itu bangsa yang luhur, ramah, tenggang rasa, gotong royong, baik hati, gemar menabung, dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain dan lain-lain
    maka: SUNGGUH INI POSTINGAN MENGHINA BANGSA INDONESIA!! HUH!!

    *angkat golok sambil teriak-teriak jihad*
    “ALAHAI BARBAR” !™ “ALAHAI BARBAR” !™ “ALAHAI BARBAR” !™
    [OOT mode Off]

    Yah…. begitulah. Bangsa ini mengidap penyakit tegangan darah tinggi yang akut agaknya…🙄

    *balik ke kerjaan*

  5. @alex
    tuh udah dikembaliin komen yang ilang…
    *nyodorin jus timun buat alex yang lagi ngidep darah tinggi*:mrgreen:

    btw, nah itu dia karena kita begitu dicecokin dengan semua jenis kehebatan bangsa ini, bikin kita jadi jumawa, dan bahkan otak-kita pun sudah tidak mampu memilah mana yang baik dan mana yang benar, ampe kita pun mengganggap bahwa membunuh adalah sebagian dari habit kita🙄

  6. *nangis*
    maap, saia cuma bisa nangis mbaca postingan ini…
    pergi kemana moralnya endonesa…
    sedang tamasya keluar negeri kah…?

  7. @hoek
    *ngelap sungai dari mata-nya hoek*
    dan bukan hanya tamasya hoek, tapi sepertinya sudah ilang sama sekali😥

  8. halah… empat rebu mah kemahalan…., di Medan gara2 cepek bunuh2an… :mrgreen:

    pandito, pendeta, ustad, kyai, rahib, biksu

    sibuk naik sedan mewah, dan kejar gelar seleb…

  9. Inilah Indonesia.. Negeri dimana nyawa kucing lebih dihargai ketimbang nyawa manusia… Negeri dimana nama Tuhan sering dicatut untuk membenarkan sebuah pembunuhan.. Selamat datang di negeri yg aneh!!

  10. Terbukti memang sebagian masyarakat kita telah mengidap rasa frustasi sangat akut. Tuntutan kompetitif, problematika hidup….. begitu mudahnya membuat stress yang acapkali memicu berbagai tindak kekerasan bahkan sampai penghilangan nyawa sesama manusia. Bikin malu aja…. bahkan yang nyata-nyata banci aja masih lebih gentleman dibanding manusia sejenis ini yang kerap kali mengatai orang lain banci padahal sendirinya kalah oleh hidup. Pakai rok aja sekalian…

  11. namanya duit emang bisa jadi ngebutain dan ngebuat orang nga berpikir panjang.
    4000 rupiah yg biasanya pake beli nasi bungkus dgn lauk tahu tempe..ternyata bisa juga “mencabut” nyawa org.

    Dunia dah penuh dgn orang “sakit”.

    *serius & prihatin mode on*

  12. DAFTAR MENU :

    Nasi bungkus — Rp. 4000,-
    Bakso — Rp. 4000,-
    Nyawa manusia — Rp. 4000,-

    Laris manis nga yack kl jualan kyk gitu ?

  13. sekalian ah

    Hetrixxxxxxxxxxxxx

  14. @CY
    nah tuh ternyata ada yang lebih murah lagi…

    pandito, pendeta, ustad, kyai, rahib, biksu
    sibuk naik sedan mewah, dan kejar gelar seleb…

    setuju….😉

    @Qzink
    Terima kasih atas Welcome Service-nya😉
    Meskipun kita tidak bisa menyalahkan Indonesia sepenuhnya, tapi kenyataan-nya itulah yang sedang terjadi saat ini.

    @undercover
    yah mungkin itu lebih tepat, penggunaan kata frustasi yang akut….catet….🙄

    @Ina
    halah…ini lagi…ini lagi…belon tahu ya kalau semua-semua-nya sekarang pada obral?😆
    apa aku boleh pesan “nyawa” satu? biar nyawa-ku bisa nambah jadi dua:mrgreen:

  15. pandito, pendeta, ustad, kyai, rahib, biksu

    sibuk naik sedan mewah, dan kejar gelar seleb…

    Bikin malu, kalo ingat di Myanmar biksunya malah turun ke jalan demi rakyat….

    sialan memang *kebanyakan* pemuka2 agama negeri ini. ciken!

  16. @alex
    dan bukan hanya turun bro, ikutan jadi korban malah, tercatat udah ada 3 kan biksu yang matek…😦

  17. Apa ini salah satu fenomena jumlah penduduk yang banyak? Jadi makin banyak penyimpangan moral yg terjadi. Dalam arti lain; makin banyak yg “sakit”.

  18. Begitulah .. di Myanmar juga telah terjadi .. seorang wartawan photo Jepang ditembak mati hanya gara2 mengabadikan unjuk rasa.

  19. @pr4s
    sepertinya sih kalau ditarik benang merah, pasti ada… karena begitu kompleks-nya faktor sosial, ekonomi, dan kurangnya faktor religius yang ngedukung dari belakang, yah jadinya seperti ini…kasihan ya Indonesia🙄

    @erander
    ya…ya…tapi, apakah itu mungkin lebih ke korban sebuah revolusi atau memang sebuah korban dengan nyawa yang dibeli murah juga ya?🙄

  20. murah amat ya?😕 saya beli satu donk..

  21. bohle-bohle…
    gak tahu neh apa stok nyawa masih banyak😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: