Antara Etika Profesional dan Etika Personal

bingungkerjaHari ini, hari paling menjengkel-kan sejak pertama sekali aku kerja di tempat ini. Rasa-rasa-nya keputusan ini udah gak bisa diganggu gugat lagi, aku mau keluar dari sini, dan gak bakalan pernah kembali. Rencananya sih seperti itu, tapi aku bingung, sangat bingung. Ya, mo gimana lagi, sekarang aku berada di antara batas yang aku sebut sebagai etika profesional dan etika personal.

KamsudMaksud-nya apa? Ya, maksud-nya, tentu, dalam dunia kerja kita pasti tahu, minimal mengetahui, bahwa ada yang namanya etika profesional yang kalau aku artikan menurut pikiran-ku: Sebagai seorang profesional kita harus memahami batas-batas apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan sebagai seorang budakpekerja profesional, karena lingkup kerja itu memiliki budaya-nya sendiri yang jelas-jelas berbeda dengan dunia luar, apalagi dunia sekolahan. Salah satu contoh, kita terikat pada dogma dimana kita berada dalam satu garis lurus yang kurang lebih mengikuti paham

  1. Boss selalu benar
  2. Jika Boss salah, kembali ke dan lihat peraturan no.1

Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang merupakan budaya dari dunia kerja itu sendiri. Kalau tidak mengikuti-nya, ya kita siap-siap untuk ngepakin barang untuk keluar dari lingkaran itu dan mencari tantangan serta kesempatan lain di tempat lain. Karena sudah pasti kita bakalan di-usirberhentikan dengan tidak hormat

Nah disatu sisi, ada juga yang namanya etika personal ketika dogma diatas tidak tersentuh sama sekali, tapi lebih ke masalah rasa penghargaan kita terhadap pimpinan kita (mungkin karena dia baik, bagus dalam men-support, peduli dengan anggota-nya), yang membuat kita bingung dalam menentukan keputusan.

Jadi, aku, saat ini terjebak ditengah-tengah itu, dimana aku tidak bisa menerima perlakuan yang men-dogma-tisasi otak-ku dan penyunatan hak-ku oleh pimpinan-ku, pada saat aku merasa telah melakukan cukup bahkan lebih dari apa yang seharus-nya aku lakukan, tapi ternyata apa yang aku dapat-kan ternyata tidak cukup, tapi di-lain sisi ya itu tadi, aku terjebak karena pimpinan-ku terlalu baik untuk ukuran rata-rata ke-baik-an seorang pimpinan dan aku tidak se-tega itu untuk membuat dia kecewa, apalagi dia pernah dengan banggategas-nya menyatakan bahwa dia paling tidak bisa bekerja dengan orang yang baru saja me-mulai, tapi kemudian meng-akhiri-nya dalam waktu singkat.

Apa yang harus kulakukan, aku bingung, apakah aku harus keluar tempat ini demi sebuah keyakinan akan sebuah kesalah profesional-itas dari pimpinan-ku, atau-kah aku harus bertahan demi menjaga etika personal yang sok patriotis yang memang memiliki relevansi dalam referensi pekerjaan-ku ke depan? 😦

[Gambar di-ambil dari sini, trus kata-kata-nya di-ganti]


extremusmilitis TAGS: ,
Technorati TAGS: , , , ,

20 Tanggapan

  1. pertamaxxx

  2. yg perlu diingat bahwa boss juga manusia,,pasti berbeda sudut pandangnya,,kadang apa yg kita anggap sesuai belum tentu sesuai menurut boss kita.jadi saran saya timbang2 lagi dgn lebih bijak^^

  3. hetrik yah biar afdol👿

  4. Kok mental kmu ga se-ekstrim nama-mu sih?

    Sy juga pernah mengalami hal yg sama spt itu. Sampe depresi malah, sakit opnam di RS ampe 5 hari dgn diagnosis penyakit yg ga jelas.

    Hikmahnya; mmg mental harus diasah supaya lebih tajam. Jangan takut dgn kesalahn yg kita lakukan. There always be first (newbie) time for everybody.
    Ingat, bahwa kita bekerja untuk atasan, maka kita harus mengalah. Waktu yg akan membuktikan kalau terkadang kita juga benar.

    Ya klo udah mentok bgt and mo pindah, pastikan udah nemu tempat baru buat bertaut. Jgn konyol keluar dr t4 lama n blm punya t4 baru. Kmu akan menambah jumlah pengangguran di negeri kita ini. weleh weleh weleh….

    Sy terlalu bersemangat nih, maap jika ada kata2 yg tdk berkenan.

    Life is so cruel out there……!!!
    Sukses ya………

  5. Duh, bingung, mau comment apa coz unda lum kerja.
    Tapi kalo unda c, selama atasan masih baik memperlakukan kita, sebaiknya bertahan aja, sebab lebih susah mencari atasan yang ramah kpd bawahan daripada mencari jarum di semak-semak (lho?)
    Trus nanti kalo dah promosi, ya ingat-ingat aja, jgn memperlakukan bawahan seenaknya.🙂

  6. @K
    emang sih ‘K, bener yang ente bilang, nah pengertian dan pemahaman akan hal ini yang bikin aku banyak sekali pertimbangan sekaligus bikin bingung😕

    @pr4s

    Kok mental kmu ga se-ekstrim nama-mu sih?

    wakakaka, emang ini ada hubungannya ke mental yaks? seperti-nya dari atas aku lebih bingung ke masalah etika-nya sih😉

    Sy juga pernah mengalami hal yg sama spt itu. Sampe depresi malah, sakit opnam di RS ampe 5 hari dgn diagnosis penyakit yg ga jelas.

    wah, sampai segitu-nya🙄
    mungkin kalau aku lho, sebelum sampai taraf itu, aku mending keluar aja sih, daripada ngorbanin diri sendiri😉

    Hikmahnya; mmg mental harus diasah supaya lebih tajam. Jangan takut dgn kesalahn yg kita lakukan. There always be first (newbie) time for everybody.
    Ingat, bahwa kita bekerja untuk atasan, maka kita harus mengalah. Waktu yg akan membuktikan kalau terkadang kita juga benar.

    nah ini dia nih pras, justru aku udah tekan-kan diatas kalau udah ngelakuin malah lebih daripada apa yang kulakukan dan tanpa kesalahan sedikitpun (ini menurut pimpinan-ku lho), tapi toh situasi-nya tetap sama dan sekarang menjadi embrio ke-bingungan-ku, secara profesional aku mengerti akan hal ini, 10 tahun bekerja kan bukan waktu yang sedikit untuk memahami ini. Tapi apa seterus-nya seperti itu, kita harus selalu mengalah kepada pimpinan, yang salah secara profesional?🙄

    Ya klo udah mentok bgt and mo pindah, pastikan udah nemu tempat baru buat bertaut. Jgn konyol keluar dr t4 lama n blm punya t4 baru. Kmu akan menambah jumlah pengangguran di negeri kita ini. weleh weleh weleh….

    seperti-nya aku setuju dengan ini dan ini yang sedang aku pikir-kan saat ini…

    Sy terlalu bersemangat nih, maap jika ada kata2 yg tdk berkenan.
    Life is so cruel out there……!!!
    Sukses ya………

    ndak apa-apa pras, malah aku senang sekali dan berterima-kasih sekali atas saran-saran-nya yang sudah pasti bakal aku pertimbangkan:mrgreen:

    @anakrimba
    pasti…pasti anakrimba, tenang aja…
    ntar kalau aku jadi atasan-nya situ, aku bakalan nyiksabaek-baekin kok…
    *dikutuk anakrimba gak bakalan jadi atasan*😆

  7. nyuwun pangapuro mas…….. Tak pikir masih seumuran saya. Udah kerja 10 tahun??? Wah berapa ya umur mas?

    Maaf…….

  8. Kalau tidak ada hal prinsip yang mengharuskan Kamu pindah ya nggak usah pindah. Saya dulu pernah keluar kerja karena nggak cocok sama bos. Gaji, lingkungan dll OK tapi sama bos nggak cocok. Ya udah, mending cabut.

  9. @pr4s
    lho kok? nyantai aja pras, kan umur tidak bisa memastikan seseorang itu lebih bisa survive dan lebih mumpuni kan?😉

    @Kang Kombor
    wah, seperti-nya si-akang pernah ngalamin hal yang sama juga yaks? dan seperti-nya itu ide yang bagus kalau dipikir-pikir🙄

  10. yg tegas aja, bro…
    daripada di kemudian hari makin ribet

    *nyalain kompor*

  11. @caplang
    yupe, seperti-nya aku sih cenderung memilih ke arah ketegasan ini…

    btw, bawa minah berapa jeregen bro😉

  12. Hajar aja bos, kan masih banyak perusahaan perusahan yang lain.😛

  13. Wah, dilematis juga nih, Bung. Menggadaikan prinsip dan keyakinan demi etika personal atawa yesmen menuruti selera sang boss. Kalau mau realistis, Bung, *halah, sok* cari kerja di zaman yang kompetitif ini nggak semudah membalik telapak tangan, Bung, sementara tantangan dan dinamika zaman terus menggoda kita untuk selalu bisa terus servive di tengah2 kehidupan yang keras. Nah, ini juga kembali lagi ke Bung. Mempertahankan idealisme dengan risiko kehilangan pekerjaan yang nggak mudah didapat atau sementara “manjing ajur ajur”, adaptif dengan lingkungan kerja. Toh penak-kepenak di tempat kerja itu sangat dipengaruhi juga oleh suasana hati dan pikiran kita. Untuk sementara, adaptiflah tanpa harus kehilangan sikap kritis. Itu saja, hehehe😀

  14. Dimanapun, jika kita masih sebagai pekerja, gak akan pernah ada kata menyenangkan mas. Orang (atasan, rekan kerja, bawahan, dll) dan situasi (gaji, insentif, suasana kerja, dll) selalu kita terima sebagai sesuatu yang negatif. Namun sesungguhnya hal itu bukan penyebab mutlak yang membuat seseorang menjadi patah semangat/tidak bisa memaksimalkan potensi dirinya. Melainkan, penyebabnya adalah sudut pandang dan pola berpikir kita yang salah. Sialnya lagi jika sesuatu yang negatif itu betul2 mempengaruhi akan direspon oleh otak kita berupa tindakan. Dan jika dilakukan berulang-ulang akan jadi kebiasaan. Dimanapun, mas gak akan pernah bisa exist atau bertahan lama. Mas akan selalu down, gak bersemangat. Pola pikir negatif yang nyata2 bisa merenggut mahkota semangat yang mas selalu ingin jaga. Selalu ada rangkaian seperti ini mas, Input –> Pola –> Output. Input = Orang, Situasi (-). Pola (- / +). Output (Tindakan, Emosi, Perilaku). Jadi intinya, bagaimana pola pikir kita, apakah kita akan menanggapi secara negatif atau positif input yang kita terima yang kebanyakan selalu negatif. Jadi mas pilih mana? Pola pikir negatif yang akan menggerogoti semangat mas atau tetap mempertahankan sudut pandang yang positif sehingga semangat mas selalu on. Menurut saya, hadapi aja dulu mas, jika memang mas yang harus menebarkan aura perubahan, lakukan. JIka mentok ya mau bikin apa. Pilih rencana “B”. Hengkang!

  15. *jadi inget jaman jaman OMBAK 2005 dulu*
    🙄

    *OMBAK=orientasi mahasiswa baru Kapal, nama resmi untuk pengkaderan massal terbatas ITS di jurusan teknik perkapalan

  16. @danalingga
    wah ternyata ada juga aliran kirisahabat yang mendukung hati nurani-ku yang sebenar-nya😉

    @Sawali Tuhusetya
    Ya, tidak sekedar dilematis emang, tapi sangat. Pada saat ada dalam posisi ini-lah kita sangat sulit ngambil keputusan…*ssshhh*
    Btw, thx pak Guru untuk dukungan-nya yang cukup membumi.😉

    @undercover
    Uraian yang menarik herd…
    Thx, ini akan jadi salah satu bahan referensi-ku juga dalam mengambil keputusan.😉

    @Mrs. Neo Forty-Nine
    lho kok? emang ada apa waktu OMBAK itu, chiw?🙄

  17. pada saat aku merasa telah melakukan cukup bahkan lebih dari apa yang seharus-nya aku lakukan, tapi ternyata apa yang aku dapat-kan ternyata tidak cukup

    Ingat, cukup itu kan relatif, belum tentu menurut bos mu cukup (walaupun dia bilang begitu mungkin hanya utk memuji), yg namanya kerja dimana2 sama bro…, bahkan menjadi seorang bos kita juga harus mengikuti kehendak atasan (dlm hal ini konsumen), kalo seorang bos ga mau ngikutin maunya konsumen ya udah siap2 aja gulung tikar.

  18. @CY
    iya sih, dan itu seperti-nya yang aku analisa terjadi saat ini…, makanya itu aku gak terlalu besar kepala dengan semua makianpujian itu so strange…😦

  19. Hmmmm imagine…… How old are you???

  20. @pras
    just let your imagine fly through the spaces:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: