Pelacur, Kau Lebih Baik Dari Kami

pelacurdanpisau Kejadian tragis yang terjadi sore kemarin, ternyata mem-beri-kan satu bukti nyata akan pandangan kita yang salah terhadap mereka yang sering di-anggap sebagai manusia rendah, mereka wanita-wanita yang menjual diri-nya dengan berbagai alasan. Yang lebih dikenal sebagai Pelacur dalam khasanah bahasa Indonesia. Meskipun ini tidak mewakili, tapi setidak-nya ini bisa jadi salah satu bukti kesalahan itu.

Perkelahian antar supir dan kernet yang ber-ujung pembunuhan ini, yang tentu saja mengaget-kan banyak orang, yang melongo tapi tidak berbuat apa-apa😡 , terjadi pada satu-satu-nya terminal di kota ini, si korban terjatuh dengan ber-lumuran darah akibat tusukan pisau. Dan ternyata tak seorang-pun yang bersedia menolong, hanya bisa menonton rebah-nya tubuh tak bernyawa itu. Sayang aku datang terlambat😦

Segera saja, aku langsung menggeber motor-ku untuk mencari polisi ter-dekat, meskipun akhir-nya ndak jadi karena raungan sirene polisi udah memasuki area terminal yang sekaligus sebagai TKP. Mungkin seseorang telah menelepon mereka.

Aku berlari menuju ke arah korban, diikuti 3 orang lain-nya yang tidak aku komando sama sekali di antara mata-mata puluhan orang yang hanya bisa menonton tapi tidak ingin berbuat sesuatu, ingin memberikan bantuan sebisa-nya yang aku bisa berikan. Setidak-nya kalau dia sudah benar-benar mati, aku bisa ikut meng-angkat tubuh-nya ke tempat yang layak. Bukan, aku bukan sok berani dan bukan ingin menjadi pahlawan ke-siang-an, aku hanya mem-bayang-kan seandai-nya itu terjadi pada-ku, dan tidak ada seorang-pun yang menolong-ku, dan tubuh-ku ter-lentang untuk jadi santapan burung gagak. Tidak, aku tidak mau seperti itu.🙄

Tapi, di-depan-ku dan di-depan kami, tepat sebelum kami tiba, aku melihat, ada seorang wanita, seorang perempuan yang aku tahu emang terkenal dengan predikat-nya sebagai Pelacur, sehubungan dengan pekerjaan-nya sebagai penjual diri dengan berani tanpa mem-perduli-kan ketakutan-ketakutan orang terhadap tersangka yang waktu itu belum melarikan diri, berlari, berusaha menyelamat-kan korban, membuka jaket katun yang di-kena-kan-nya untuk menutup lubang yang terluka, sekedar untuk menghentikan pendarahan. Sayang aku tidak membawa kamera (bahkan hape-ku pun ketinggalan) untuk meng-abadi-kan-nya😦

Setelah polisi turun tangan, mau tidak mau kami harus minggir dari lokasi tersebut, tapi aku sempat-kan untuk bertanya kepada-nya, sang Pelacur, sekedar untuk menjawab penghargaan-ku kepada-nya, apakah dia mengenal korban sehingga dia rela melakukan seperti apa yang telah dilakukan-nya.

Jawab-nya Tidak. Dia tidak mengenal korban, dia hanya tidak bisa melihat se-seorang mengalami kesakitan seperti itu tanpa ada seorang-pun yang menolong. Itu saja, itu saja yang meng-gerak-kan hati-nya. Aku terdiam dan menggumam memuji, “Hebat, dia sudah membuktikan, kalau ternyata dia memang lebih baik dari kita“. Padahal kita selalu menganggap dia sebagai orang rendah karena pekerjaan-nya, bukan karena dia sebagai manusia. Ternyata mereka yang hanya bisa menonton tanpa ada niat untuk menolong, bagi-ku lebih rendah !!!

[catatan: gambar diambil dari sini dan dari sini]

47 Tanggapan

  1. gambarnya kurang banyak, mas mus

  2. ah….karena felacur juga manusia kawand…dan ndak semua manusia juga manusia……:mrgreen:

  3. Kok situ tau kalok dia pelacur ???

  4. Ho ho, pukulan telak pada ego manusia😀
    Menjadikan perasaan merasa paling benar atau lebih baik dari orang lain menjadi …… hal menyedihkan:mrgreen:

  5. Tanpa mengecilkan kebaikan pelacur itu, satu peristiwa belum cukup untuk mengatakan dia lebih baik dari kita.

  6. Wow, ya itulah manusia….pekerjaan haram = gak punya perasaan + bejat.

    Untuk kepedulian sosial dan ketulusannya harus diakui sebagai suatu sifat yang baik. Meski pekerjaannya tsb sama sekali tidak membuatnya mulia. Ya…pekerjaan memang bisa membuat seseorang menjadi mulia atau hina. Tapi bukan berarti dia menjadi lebih hina dari kita dan kita lebih mulia dari dia. Kalo nasib berkata lain pasti dia memilih pekerjaan yang lebih baik.

    *Trying to see the positive side of her😀

  7. @caplang™
    *halah*
    dasar viktor😈

    @hoek
    Akur hoek, meskipun banyak manusia mengaku manusia padahal dia bukan manusia, bukan begitu hoek?😉

    @mbelgedez
    Aku juga manusia biasa Mbel, dan ketika satu-satu-nya tempat hiburan malam di kota-ku adalah Live Music Pub, tempat untuk ber-nyanyi, tempat untuk bertemu teman-teman-ku, tempat untuk ber-bisnis bagi sebagian besar orang, tapi sekaligus tempat transaksi “para penjual diri”, apa-kah aku tidak bisa tahu kalau dia itu pelacur:mrgreen:

    @sigid
    Yah, kita, manusia, emang masih punya pandangan seperti itu Gid…dan ya, dia emang di-rendah-kan oleh hampir semua orang, mungkin termasuk aku, tapi sejak saat itu, aku tidak akan pernah merendah-kan dia lagi😉

    @Kombor
    Emang bener Kang, tapi setidak-nya dari kejadian itu, aku melihat sebuah bukti kecil tapi nyata betapa seorang yang selalu dianggap rendah, ternyata lebih perduli dengan sesama-nya daripada puluhan bahkan ratusan pasang mata yang mengaku lebih “tinggi”

    @yonna
    Yupe itu betul, tapi aku tidak melihat ke-suci-an-nya atau tidak, aku tidak punya hak untuk itu.
    Aku hanya melihat kalau dia lebih baik dari kami pada saat itu, dan dia melakukan-nya, itu yang mem-buat aku ter-sentak

  8. iya semakin sering bergaul dengan berbagai macam orang dan sifatnya yang beragam akan memperkaya ilmu kehidupan kita yang diharapkan membuat kita lebih dewasa, rendah hati, ramah, suka berteman dengan siapapun….meski mgkn teman kita dianggap kontroversial dari masyarakat:mrgreen:

    ya kalo saya dididik untuk tidak usah heran dan kaget melihat betapa majemuknya perilaku, pekerjaan, dllnya seseorang. karena dunia luar tidak sama dengan rumah. berteman dengan orang karena dia mau berteman dengan kita…itu aja😀

  9. jadi inget pengalaman pribadi, saya pernah menolong orang yg tiba2 terkena ayan di tengah jalan… saya hanya bisa memegangi sendirian.. banyak orang lewat yg cuek.. pernah juga menolong orang kecelakaan.. sendirian juga😦 ,
    Tetapi saya bersyukur, pada saat saya kecelakaan *sekitar setahun yg lalu* banyak orang yg baik hati menolong, dengan mengangkat dan mengantar saya sampe ke rumah sakit *bahkan saya tidak tahu orangnya*, mengontak keluarga, menjaga motor saya dan melaporkan kepolisi.. *ternyata masih banyak orang yg baik*

  10. Yup,terlepas dari siapa yang lebih baik, dia atau kita, sepertinya kejadian itu bagus untuk introspeksi diri.

  11. pelacur bukan orang yang aku anggap rendah. aku punya kawan (kawan dan aku ga perna memanfaatkan dia secara profesional, ngerti maksudnya kan) yang juga punya profesi sama. dia malah yang men-support aku dalam beberapa hal dan mengkritik sikap-sikap diriku. i miss her.

  12. pertanyaannya sekarang, kalau seorang pelacur punya nurani yang begitu mulia untuk menolong orang dan yang menonton itu lebih rendah?

    Bagaimana dengan orang yang sudah melukai, menyakiti atau mengambil hak sesamanya? mereka lebih rendah dari …..?

  13. Ga banyak kan yg jadi pelacur krn sukarela?? kebanyakan terpaksa utk mulut2 lapar yg menganga dirumahnya…

    *bukan berarti aku mendukung pelacuran*

  14. @ CY

    Ga banyak kan yg jadi pelacur krn sukarela?? kebanyakan terpaksa utk mulut2 lapar yg menganga dirumahnya…

    Sepakat benar sama CY!

    Pelacuran itu ndak bisa dipandang hitam-putih ala komik Tatang S belaka. Ndak bisa cuma diliat dari sudut dosa-pahala atau surga-neraka.

    Masalah klasik yang belum pernah tuntas dengan fanatisme belaka….😐

    *bukan berarti aku mendukung pelacuran*

    Cuma orang tolol ego yang akan nuduh kita ndukung pelacuran karena pikiran yang sama begitu😀

  15. ah, gambarnya sungguh ter…la…lu

  16. @yonna
    kalau yang begini ini aku setuju dengan kamu mbak, dan menurut aku sih seharus-nya seperti itu. thanks buat tambahan-nya😉

    @warnetubuntu
    betapa seneng-nya ya bro? itu arti-nya perbuatan mengasihi sesama yang telah bro lakukan sebelum-nya mendapat-kan balesan yang setimpal, keep on it bro😉

    @sigid
    *mode merenung: on*🙂

    @monsterikan
    yupe mengerti, dan itu lebih baik, ber-teman dengan mereka sebagai teman bukan sebagai konsumen🙂

    @SQ
    mereka lebih rendah dari pelacur!!!
    bukan begitu?😉

    @CY
    Akurrr, aku setuju dengan CY dan Alex yang juga punya pandangan yang sama😉
    Siapa sih yang ingin menjual diri-nya😕

    @alex

    Cuma orang tololego yang akan nuduh kita ndukung pelacuran karena pikiran yang sama begitu😀

    Dan seperti-nya masih banyak orang-orang yang seperti itu lex😀

    @Siw
    lho gambar-nya kan penuh dengan nilai seni 8)
    btw, sungguh ter-la-lu-nya jadi inget salah satu tokoh di filem si Entong😆

  17. ah,..
    pelacur…

    padahal yang suka ngata-ngatain rendah itu,
    juga sering make mas.. mas…

  18. Tak ada seorang wanita pun ingin menjual dirinya. Kecuali terpaksa. Yang rendah itu profesinya. Bukan orangnya. Mereka itu seperti mentimun yang ketimpa buah durian. Hidup mereka sangat menderita.

  19. Jaman sekarang ini memang susah mau ketemu orang yang benar-benar peduli sesamanya. Untuk hal-hal kemanusiaan yang tidak menghasilkan keuntungan sebagian orang memilih jadi penonton saja. “Bukan urusanku”, katanya.

    Tapi, bila proyek yang menguntungkan saya yakin akan banyak yang bergerak duluan, bahkan berebutan,he he he.

  20. @leksa
    iya tuh, munarohnafik sih ke-banyak-an

    @Hanna
    Me-rendah-kan lebih mudah dari di-rendah-kan Han
    Di-untung-kan lebih mudah dari meng-untung-kan
    Analogi-nya kira-kira seperti itu yaks Han?

  21. Ya, ya, ya, seringkali pandangan mata kita tertutup kabut untuk bisa melihat nilai-nilai kebenaran. Kita seringkali menggeneralisir persoalan dengan menyamaratakan karakter seseorang secara stereotype: hitma putih. Contoh ya yang Bung Militis kisahkan itu. Ternyata, seorang pelacur pun ada juga yang masih memiliki hati nurani. Sebaliknya, belum tentu orang yang alam lantas nihil dari segala macam dosa dan kesalahan. Btw, agaknya *halah* kita mesti belajar melihat setiap persoalan dengan mata hati, bukan dengan mata fisik semata. Ok, salam.

  22. *Maaf ada kesalahan ejaan, ini yang bener!*
    Ya, ya, ya, seringkali pandangan mata kita tertutup kabut untuk bisa melihat nilai-nilai kebenaran. Kita seringkali menggeneralisir persoalan dengan menyamaratakan karakter seseorang secara stereotype: hitam putih. Contohnya ya yang Bung Militis kisahkan itu. Ternyata, seorang pelacur pun ada juga yang masih memiliki hati nurani. Sebaliknya, belum tentu orang yang alim lantas nihil dari segala macam dosa dan kesalahan. Btw, agaknya *halah* kita mesti belajar melihat setiap persoalan dengan mata hati, bukan dengan mata fisik semata. Ok, salam.

  23. satu hal yang pasti, tidak tahu lebih baik atau tidak… yang jelas PSK itu (istilah pelacur kok kayaknya terlalu kejam ya) masih punya hati nurani😀

  24. iyah, itulah manusia, kebaikan hati tidak bisa dilihat dari parasnya🙂

  25. pelacur itu cuma tampak luarnya, sebagaimana ustadz dan pendeta..

    tampak dalam? hanya hati yang bisa membaca.

  26. Jadi inget temen yang kecelakaan ( dah lama sih ) katanya waktu itu, dia jatuh tapi sama sekali gak ada yang nolong, trus cerita ke ibu, Ibuku bilang ” Bapak itu suka nolong orang gak?? ” hehehe…
    Apa yang kita tanam itu yang akan kita petik kan??

  27. Sepakat ma Hoek, karna si gadis itu juga manusia, yang tentu saja tidak pernah ingin melihat ada orang yang menderita di depan dia

    eh, trus yg pada nonton manusia bukan y?

    *ikut OOT deh:mrgreen: *

  28. i dont know. maybe you have some reason to your opinion. but i think, if you look at religion, ‘pelacur’ is wrong. thats all. tapi kalo kita bisa menilik dari sudut pandang laen sieh, bisa jadi opini lu bener-bener ada BENERNYA. thaks for a chance

  29. dari pengalaman saya bergaul dengan orang yang katanya nista itu, mereka menolong orang tanpa melihat siapa orang yang ditolong itu.

  30. @re
    “pelacur is wrong”
    the question : how we keep `em right without starving their children or their beloved one??

  31. the question : how we keep `em right without starving their children or their beloved one??
    Selalu ada jalan untuk kembali… Gak mudah. Tapi bukan gak mungkin.

  32. jadi pelacurnya yang salah….kalo nolongnya itu bener………yang jadi pertanyaan kenapa dia kok bisa jadi pelacur, emang ga ada pekerjaan yang halal apa…????????

  33. @Sawali Tuhusetya

    kita mesti belajar melihat setiap persoalan dengan mata hati, bukan dengan mata fisik semata

    wah keren ajakan-nya pak Guru *save as*🙂

    @mardun

    satu hal yang pasti, tidak tahu lebih baik atau tidak… yang jelas PSK itu (istilah pelacur kok kayaknya terlalu kejam ya) masih punya hati nurani😀

    *meng-angguk meng-iya-kan*😉
    btw, emang istilah-nya terlalu kasar yaks? maaf ya kalau mas mardun merasa risih, abis aku lebih nyaman dengan “nama yang kasar tapi ber-nurani, daripana nama yang halus tapi tidak ber-belas kasih-an”🙂

    @GRaK
    emang selalu begitu bro😉

    @almadman
    yah, itu memang tidak ada yang bisa menjamin🙄

    @Mrs. Yusuf
    Hahaha, apa itu sesuatu yang seperti karma ya mbak?
    Analogi yang bagus:mrgreen:

    @anakrimba
    Ntu dia Nda, kata-nya sih manusia, tapi kok gak mirip manusia yaks?😆

    @re
    no prob😉
    as long as we didn’t judge and put them in the balance, i think that’s enough…

    @itikkecil

    dari pengalaman saya bergaul dengan orang yang katanya nista itu, mereka menolong orang tanpa melihat siapa orang yang ditolong itu.

    dan itu lebih baik kan Ra?🙂

    @CY
    yeah bro, everyone have different faith, and destiny🙄

    @mutia
    Yah bukan gak mungkin. Selalu ada kesempatan kedua, bukan begitu?😉

    @Rommy
    bayang-kan seandai-nya kita dihadapkan pada situasi tidak ada pilihan?…
    tapi…biar-lah mereka yang men-jawab-nya, aku tidak melihat yang kelihatan halal itu akan selalu halal😉

  34. bagi kalian yang memvonis sang pelacur, matilah kalian semua!
    emangnya tuhan cuma bisa itung-itungan 1+1=2 apa?

  35. aduh.. maaf, istilah PSK itu tidak berbelas kasihan ya?
    aku jadi bingung…. awalnya sih aku malah nggak mau pake istilah apa-apa
    soalnya gimana-gimana mereka kan sama kayak kita, cuma bedanya mereka lebih berani jujur saja:D

    Bung militis tahu nggak kira-kira istilah yang cocok apa?

  36. Ada yang berpendapat “pelacur lebih bisa menjaga mulutnya, karena mulut yang lain sudah tak terjaga!!” bila dikembalikan kepada cerita diatas, pendapat yang saya kutip menjadi omong kosong saja. Karena hati, perbuatan dan tindakannya benar-benar bukan hanya teori, bukan hanya terjaga tapi menginspirasi dan tak jarang membuat malu, terima kasih sobat sebuah sudut pandang yang bagus.

  37. saya rasa ga banyak dr mereka yg memilih untuk jd pelacur. Dan pengalaman saya (hanya berteman :P) biasanya mereka lebih solider dan jauh lebih care pada sesama palagi yg tertimpa musibah

  38. @The Sandalian
    wakaka, sandalian ngamuk-ngamuk *ngirim air putih ke sandalian*:mrgreen:
    btw aku setuju sangat dengan yang ini:

    emangnya tuhan cuma bisa itung-itungan 1+1=2 apa?

    🙂

    @mardun

    aduh.. maaf, istilah PSK itu tidak berbelas kasihan ya?
    aku jadi bingung…. awalnya sih aku malah nggak mau pake istilah apa-apa
    soalnya gimana-gimana mereka kan sama kayak kita, cuma bedanya mereka lebih berani jujur saja:D
    Bung militis tahu nggak kira-kira istilah yang cocok apa?

    apapaun makanan-nyaistilah-nya, teh sosro minuman-nyaujung-ujung-nya kita sama dengan mereka yaks mas:mrgreen:
    *ngubek-ngubek kamus istilah*
    aku bingung juga mas pelacur juga salah, PSK juga salah, bagaimana kalau kita pake istilah TMD aja mas
    TMD = Terpaksa Menjual Diri:mrgreen:

    @goop

    “pelacur lebih bisa menjaga mulutnya, karena mulut yang lain sudah tak terjaga!!”

    keren *Save As*😉
    thx juga bro, untuk selalu meng-ingat-kan kita agar kita bisa lebih baik lagi🙂

    @’K,

    hanya berteman😛

    hanya berteman? *mode curiga: on*😈
    beranjak dari ke-tertindas-an yang sama akan mem-buat kita semakin peduli bro
    ini seperti-nya sudah menjadi hukum yang tidak tertulis😉

  39. How to keep them right itu bukan hanya berarti masalah perut, tapi juga masalah org di kiri kanan-nya yg selalu menempelkan cap “pelacur” itu di jidatnya saat mrk mulai mau ganti profesi.

  40. @CY
    sebagian besar orang lebih tidak bisa menerima ketika seorang yang dulu-nya di-cap buruk ingin menjadi baik, daripada ketika seorang yang dulu-nya di-cap baik menjadi baik, bukan begitu?

  41. Memang buruk mau jadi baik susah banget, sementara lebih mudah dari baik menjadi buruk.😉

  42. istilah yang tepat adalah dont just d book by its cover (bener g?). yang artinya kra2 jangan menlai orang dari luarnya aja. liat dalemannya eh dalemnya.

    pelacur kan pekerjaanya, itupun klo emang niat jadi pelacur(emg ada?) sapa tau dia kepaksa jadi pelacur. hati nurani,moral, sapa yang tau.

    seorang ulama terkenal aja masi punya kelakuan yang bangsat. sedangkan pelacur malah… .

  43. coba koleksinya dibuka semua

  44. wah, kyk-nya masalah yang kyk gituan tuh emang susah2 gmpang ngasih pandanganya. ya kan, tergntung kita liat dari sudut pandang mana?
    kalau menurutku kyk-nya, cewek itu mau nolongin karena pria itu guaanteng kali ya?’!@,?
    Tapi yang pasti, kita gak bisa nilai seseorang hanya dari satu bagian saja (satu sikapnya, sifatnya, dll)
    karena manusia itu punya banyak “kepribadian” (bukan kepribadian ganda). Yang aku maksudkan kepribadian seseorang itu bisa berubah, bisa kan…?

    ya kayak seorang pelacur itu….

  45. peracur buat aku peracur jg mgkn sih hati’a ga mgkn mau jd pelacur
    siapa tau aja di jd pelacur gara” dia kepaksa dan butuh uang untuk keperluan keluarganya. .

    siapa tau jg dia menjadi pelacur gara” dia ingin menolong seseorang yg sedang butuh bgt uang. .

    jd inti’a siapa tau ja hati seorang pelacur lebih baik dari pada kita yg bukan seorng pelacur. . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: