Cerita Tentang Es Mambo

thumb_esmamboabstracted Dua orang anak kecil ber-lari-an di-sela ke-ramai-an pasar yang di-sesaki bau peluh tubuh manusia-manusia dewasa yang ter-bakar oleh sengatan matahari yang begitu terik. Mereka se-akan tidak per-duli, mereka terus ber-lari sambil menenteng termos berisi es mambo seharga 25 rupiah satu-nya untuk dijual di alun-alun kota tempat per-helatan 17 Agustus-an tingkat kabupaten sedang ber-langsung. Dan mereka sudah tahu kemana mereka harus ber-diri, di-bawah sebuah pohon besar dan rindang persis di perempatan jalan. Yang adalah tempat favorit bagi kebanyakan orang karena teduh-nya ber-diri di-bawah pohon itu.

Lagu Indonesia Raya yang ber-kumandang dan kemudian di-lanjut-kan dengan pidato resmi dari Pembina Upacara-nya, seperti tidak meng-ganggu ke-asyikan mereka untuk men-jajakan es mambo-nya, meskipun dengan keringat ber-cucur-an karena panas-nya matahari hari itu. Dan mereka tahu, hanya dengan cara itu mereka bisa men-dapat-kan uang untuk sekedar memiliki jajan di sekolah. Mereka tidak mungkin meminta, karena jawaban yang mereka dapat-kan akan selalu sama:

Untuk jajan, kalian harus cari uang sendiri, Jangan pernah meminta

Begitu selalu jawaban dari orang tua mereka, ketika mereka setiap kali ingin meminta 25 rupiah saja buat sekedar mem-beli permen yang ber-harga 25 rupiah untuk 2 permen. Dan mereka sudah tidak bisa ber-buat apa-apa lagi selain meng-angguk-kan kepala, meskipun dengan sedikit ter-paksa๐Ÿ˜

Dengan gaya bak penjual profesional, mereka men-jual es mambo-nya. Yang muda ber-tugas untuk teriak-teriak memanggil pembeli, dan yang lebih tua ber-tugas buat menerima uang dan mem-beri-kan es yang di-beli.

Tidak terasa waktu semakin sore, tinggal 10 lagi es mambo-nya ter-sisa dari 100 yang harus mereka jual hari itu. Mereka cukup senang dan puas, meskipun sedikit kecewa karena belum habis semua-nya. Ketika, tiba-tiba sang Pembina Upacara datang menyambangin mereka, dan menanyakan:

“Bagaimana, apakah es-nya sudah habis ter-jual?”

“Belum. Kami masih harus menjual 10 lagi. Nggak tahu ini sampai jam berapa baru bisa laku semua”, jawab anak yang lebih tua

“Lho udah bagus kan? Syukuri apa yang sudah kalian dapat-kan hari ini, itu lebih baik. Belum tentu semua orang bisa men-jual sebanyak itu kan?” ujar sang Pembina Upacara sambil tersenyum

“Iya sih, tapi kami udah ber-tekad, hari ini semua-nya harus habis, karena kami ingin mem-beli sesuatu dengan uang-nya”, sambung si anak yang lebih muda

“Atau begini saja, semua es kalian aku beli, tapi nggak boleh kalian minum sendiri, harus di-bagi-in ke orang lain, ter-serah dia teman kalian atau bukan, kenal atau-pun tidak. Bagaimana? Setuju?”, tukas si Pembina Upacara

“Wah ide yang bagus itu. Bagaimana bang? Setuju? Kalau aku sih setuju-setuju aja”, yang muda tersenyum dengan sumringah

“Oke, itu lebih baik”, sambung anak yang lebih tua

Akhir-nya transaksi itu pun ber-langsung, uang-nya sudah ber-pindah tangan, dan mereka dengan semangat mem-bagi-kan sepuluh es yang ter-sisa ke pada orang-orang.

Dengan langkah riang mereka pulang ke-rumah, mem-bayang-kan hasil yang mereka dapat-kan hari ini. Dan setiba-nya di-rumah, mereka di-sambut dengan tawa bahagia dari Mama mereka dan sang Pembina Upacara yang sedang memakai sarung kebesaran-nya bukan lagi jas kebesaran-nya๐Ÿ˜‰

Mereka bahagia, tugas mereka hari itu telah selesai…

[catatan:]

Gambar desain aseli milik sendiri 8)

30 Tanggapan

  1. ingat diri sendiri Mus…
    ๐Ÿ˜ฅ

  2. Eh, itu pembina upacaranya bapaknya?
    *maklum lemot…๐Ÿ˜€

  3. @Mrs.Neo Fortynine
    He-e ya Wi *ngirim sapu-tangan ke Siwi*๐Ÿ˜

    @Praditya
    Hmmm, menurut bro bagaimana?:mrgreen:

  4. Wah, pembina upacaranya ternyata satu rumah.๐Ÿ˜€

  5. Ouwh..sarungnya pembina upacara kebesaran?๐Ÿ™„

  6. Bang…
    saya pernah baca yang macam ini, dulu skali di blog ini juga, apa ya judulnya…
    Berkaitan dengan Ayah, klo g salah…
    sementara yg ini dilihat dari sudut pandang orang pertama yak??
    Syip…
    “ada kekuatan tekad disana”:mrgreen:

  7. wooooooooooo…bagi2 es mambo ga bilang2. ini gretongan to ??

  8. Hmm.. Tekad baja, semangat juang, jangan pernah puas.. Setelah itu nikmati apapun hasilnya.. Racikan yang manis.

  9. trus itu gambar yang di desain sendiri itu apa ?
    itu es mambo bukan maksudnya ?? :D:D

  10. saya waktu SD pernah jualan sticker. harganya berkisar 100 – 500 perak. hasil penjualan? ludes masuk perut..:mrgreen:

  11. Aku nggak yakin Extremus masih nemuin es mambo 25 perak. Bukannya Extremus baru berumur 10 tahun saat ini?

  12. Eh, eh… Pengalaman pribadi?๐Ÿ˜†

    Sihal, kayaknya si Pembina Upacara itu papanya…๐Ÿ˜•

  13. wah mas, jadi inget lagu Iwan Fals “Sore Tugu Pancoran”๐Ÿ™‚

    anak2 kecil yang harus kehilangan masa kecilnya yang semestinya dia menikmati hidup. segimanapun susahnya orang tua mereka, tapi saya kurang setuju menyuruh anak bekerja. gimanapun, ortu harus bertanggung jawab penuh memenuhi kebutuhan anaknya termasuk membiarkan mereka tumbuh normal sebagaimana anak kecil lainnya. oke lah mereka harus belajar prihatin dan menghargai uang dari kecil…tapi tidak dengan cara demikian. masih ada cara lain yang lebih baik untuk mendidik anak supaya tetep prihatin, rendah hati dan hemat mengelola uangnya.

    di sisi lain, saya bersyukur tidak mengalami masa kecil yang seperti itu. saya baru merasakan kerasnya hidup dan susahnya mencari uang halal setelah dewasa, tidak seperti mereka yang entah sampai kapan harus berjuang bertahan hidup di tengah kerasnya realita….apakah harus maut yang mengakhirinya??

    salam….nice article๐Ÿ™‚

  14. @danalingga gi fakir bandwith
    Kurang lebih seperti itu bro๐Ÿ˜›

    @tukangkopi
    Nah itu dia yang gak tahu bro, belon ada konfirmasi-nya๐Ÿ˜†

    @Goop
    Yupe bro, pesan yang ini:

    โ€œUntuk jajan, kalian harus cari uang sendiri, Jangan pernah memintaโ€œ

    Thanks my bro.๐Ÿ˜‰

    @nieznaniez
    Halah…maunya gratisan melulu
    *lempar es mambo zaman baheula ke Niez*:mrgreen:

    @qzink666
    Hehehe amin bro, lebih tepat-nya sih bro bentuk pengajaran realitas kehidupan, asal gak di-tanggapi sebagai bentuk exploitasi.๐Ÿ˜‰

    @Funkshit
    Hiks, maksud-nya sih iya walau gak jelas, bingung nyari gambar es mambo, om gugle gak ngerti euy๐Ÿ˜†
    Jadi yah, di-paksa-paksa-in gitu deh…jelek yaks?๐Ÿ™„

    @cK ga login
    Waaa…ternyata Chika juga pernah yaks?๐Ÿ˜›

    @kombor
    Seperti-nya sih udah ndak ada lagi Kang. Lha wong permen aja masih dapat 2 seharga 25 rupiah kok.
    Tokoh dalam cerita-nya sih emang ber-umur sekitaran itu:mrgreen:

    @rozenesia

    Sihal, kayaknya si Pembina Upacara itu papanyaโ€ฆ๐Ÿ˜•

    Ter-nyata bro bisa nyadar-in juga tentang ini๐Ÿ˜›

    @yonna
    Jujur aku sangat setuju dengan apa pendapat kamu Na. Karena banyak-nya kejadian seperti itu apalagi saat ini yang cenderung meng-exploitasi anak.
    Hanya saja, sepanjang masih dalam batas wajar apalagi kalau niat-nya emang buat nge-latih kemandiri-an seorang anak, aku pikir sih sah-sah aja lho Na๐Ÿ˜‰

    Thanks Yonna…๐Ÿ˜›

  15. mmm…. biasanya anak kaya gitu klo besar menjadi lebih mandiri. Salut buat mereka yang masih semangat sekolah walaupun uang jajan harus cari sendiri. Much better daripada anak sekolah yang suka cabut – cabutan gak jelas.

  16. Tak ada seorang ayah pun yang tega menyaksikan hidup sang anak kesusahan, *halah sok tahu lagi*. tipe mendidikan yang diterapkan oleh setiap orang tahu memang beda2, tapi saya kira kok tujuannya sama, mendidik agar kelak sang anak mampu menghadapi tantangan hidup secara mandiri. Nah, sekarang gimana? Bung Militis sudah merasakan manfaatnya? Eh, dua anak kecil yang dimaksud itu Bung Militis dengan sang kakak, yak?

  17. He he pengalaman hebat Kang,
    Calon pengusaha sukses,

  18. Bernostalgia ya, Mus?
    Dua anak kecil yang luar biasa. Ya, yayayayayaya, kita memang harus punya tekad dan keinginan baru bisa yang lain2 , he he.

    Mus kok mataku seperti melihat banyak bintik2 putih di blog ini. Itu ya namanya salju? he he

  19. Waw….๐Ÿ˜ฏ
    Lg coba flashback nih Mas…..

    Hmmm… cara yang jitu buat menyambut tahun ya dengan inget-inget masa lalu.๐Ÿ˜€

  20. saya juga pernah jualan es mambo pas dulu sd muter-muterin kalo ada layar tancep…
    inget masa muda…

  21. es mambo itu parutan es yang diatasnya di kasih sirop itu bukan?
    huhuhuu dulu uang segitu berharga banget yah?
    tapi sekarang juga sepertinya uang itu masih berharga juga soalnya jadi inget ma bokap.
    bapaknya keren, bijaksana banget.

  22. duh jadi pengen es mambo ni
    eh btw terharu ni sama endingnya…

  23. @suprie
    Thanks, emang sih bro, tapi tetap itu kembali ke kesadaran anak-nya sendiri, dan juga pengaruh lingkungan
    Btw, men-jadi buruk untuk menjadi lebih baik seperti-nya tidak masalah lho, daripada sebalik-nya:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya
    Hal yang ter-besar dari apa yang di-ajar-kan adalah bisa ber-diri di-atas kedua kaki sendiri tanpa harus menengadah-kan tangan, dan men-syukuri apa-pun yang di-beri-kan-Nya untuk kita Pak Guru.
    Dan yupe, mereka adalah kami๐Ÿ™‚

    @rumahkayubekas
    Thanks Mas Herry. Kalau jadi sukses mah, itu relatif euy๐Ÿ˜†

    @Hanna
    Mmmm, gimana yah, nostalgia sih memang Han, tapi kalau luar biasa-nya masih banyak yang lebih hebat kok:mrgreen:
    Hehehe, iya salju nih versi WordPress. Kamu juga bisa kalau mau lho Han. Thanks Han๐Ÿ˜‰

    @goes
    Emang seperti itu bro. Layak-nya sebuah ritual yang aku jalani tiap akhir tahun, sehingga aku lebih ber-siap untuk intropeksi diri๐Ÿ˜‰

    @Moerz
    Hahaha, ter-nyata pernah jualan es mambo juga yaks:mrgreen:

    @bedh
    Pasti-lah bro, duit segitu kan udah hebat. Aku masih ingat kalau satu batang rokok itu masih 50 rupiah satu-nya. Tapi inti-nya kan bukan uang-nya tapi apa yang ber-usaha di-ajar-kan๐Ÿ˜‰

    @lovymovie
    *nyodorin es mambo*:mrgreen:

  24. Hah! Ini pengalaman pribadi? Astaga eke maen samber aja, maaf sejuta maaf ya Mas, bener gak tau. Padahal artikel ini sequelnya Papa Bukan Kejam ya? huehehe laughing my foolishness:mrgreen:

    Saya tambah tengsin udah terlanjur nulis “apakah harus maut yang mengakhirinya?” gile nek, selain lebay bajay kesannya ampe sekarang mas EM masih jualan es mambo๐Ÿ˜†

    Minta maaf ke papa mamanya mas EM ya, emm terutama ke anak2nya hehe. Tapi karena mas EM ini laki2 emang kudu kejem dikit ngedidiknya, dari kecil udh ngrasain susahnya cari duit biar stlh dewasa gak manja, minta ortu, dll ya?! Samaan dikit ma cara ngedidik mama saya yg lbh kejem ngdidik saya n kakak drpd ke abang2 saya. Kejem maksutnya mama lbh cerewet mengkoreksi kami bedua krn kata mama qta perempuan sbg istri dan ibu hrs punya mental tangguh, cara berpikir yg bener, sabar, dll utk modal jd mitra suami yg dpt diandalkan n ibu yg bs mendidik anaknya dgn bener. Mama sengaja bersikap demikian krn tg jwb moril beliau yg besar, kesalahan kami adlh beban beliau. Stlh berkeluarga, saya sangat memahami sikap beliau dan sangat berterima kasih atas didikannya dan mengakui kalo beliau emang bener selama ini. Udah digembleng keras masih eror gini, palagi kalo ga digembleng ya? Wah mgkn saya udh jd kutukupret, loser doang. I’m nothing without them terutama mama yg udh luar biasa sabar ngadepin kekurangan2 saya. Hehe. Jadi curhat neh, tapi mudah2an kita emang anak yang tau diri ya Mas?! Amin, salam n peace:mrgreen:

  25. wah asyik yah bisa cari duit๐Ÿ™‚

  26. Ampun deh udh ngorbanin jempol ndiri pas klik submit eh dc! Dasar 3G kampr**:mrgreen:

    Wah mas ternyata pengalaman pribadi ya? Maaf sejuta maaf buat mas EM, abangnya, papanya, dll yang kaget baca komen saya. Asli gak tau, baru ngeh pas ada yg bilang kalo artikel ini sekuelnya Papa Bukan Kejam. hehe tengsin.

    Untung cuma masa lalu ya, kalo ampe skrg Mas msh jualan es mambo baru sedih ya hehe. Yah tapi saya akui ini adlh renungan bwt qta semua thd cara mendidik ortu kita n manfaat yg qta rasakan stlh dewasa bahwa kekejaman mrk dimaksudkan utk membangun mental yg tangguh krn hidup emg keras. Salam, peace skali lagi.

  27. betulkan parut bekas luka itu indah utk dikenang?? :mrgreen:

    *ditabok krn ngingetin luka terus*

  28. pelajaran paling berharga adalah pengalaman.. thx atas ceritanya bro…๐Ÿ™‚

  29. nice story…
    terima kasih๐Ÿ™‚

  30. That’s life ..

    Bersyukurlah orang yang tetap menjaga kebersihan hatinya. Merugilah orang yang mengotori hatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: